Empat Tingkat Kesucian

👁 1 View
2017-09-21 19:49:49

Dalam ajaran Buddha terdapat empat jenis tingkatan kesucian.  Dimana hal ini dicapai bagi ia yang telah membasmi dan melemahkan belenggu-belenggu penghalang pencapaianya. Penggolongan manusia awam/biasa pada umumnya diluar dari empat tingkat kesucian tersebut yang disebut putthujhana/manusia biasa yang masih tercengkram kuat oleh tiga kekotoran batin yaitu lobha/keserakahan, dosa/kebencian dan moha/kebodohan batin.

Dalam artikel ini empat jenis kesucian akan dibahas berdasarkan Belenggu yang disingkirkan dan kelahiran yang tersisa. Untuk lebih jelas perhatikan table berikut:

 

Tingkat Kesucian

Belenggu yang Baru disingkirkan

Jenis Kelahiran ulang yang tersisa

Sotāpanna

          Sakkāyadiṭṭhi, (dibasmi)

         Vicikiccha, (dibasmi)

         Silabbataparāmāsa (dibasmi)

Paling banyak tujuh kali lagi kelahiran di alam deva dan manusia dengan kondisi bahagia.

Sakadāgāmi

         Kāmarāga (hanya lemah)

          Paṭigha (hanya lemah)

Satu kali lagi kehidupan di alam lingkup indrawi dengan kondisi bahagia.

Anāgāmi

         Kāmarāga (dibasmi)

         Paṭigha (dibasmi)

 

 

Kelahiran spontan di alam arūpa

Arahat

          Rūparāga (dibasmi)

          Arūparāga (dibasmi)

          Māna (dibasmi

 Uddhacca (dibasmi)

Avijjā (dibasmi)

Tidak terlahir lagi/Nibbāna.

 

Keterangan sepuluh macam belenggu:

  1. Sakkāyadiṭṭhi (kepercayaan tentang akan adanya diri yang terpisah dan kekal/atta)
  2. Vicikiccha (keraguan terhadap Buddha dan ajara-Nya)
  3. Silabbataparāmāsa (Kepercayaan terhadap upacara yang tergolong dalam pandangan salah)
  4. Kāmarāga (hawa nafsu/nafsu inderia rendah)
  5. Paṭigha (kebencian, dendam, kemauan jahat, kedengkian)
  6. Rūparāga (kemauan/keinginan untuk hidup di alam rūpa/materi)
  7. Arūparāga (kemauan/keinginan untuk hidup di alam ārūpa/tanpa materi)
  8. Māna (kesombongan)
  9. Avijjā (kebodohan batin, kegelapan batin).

Penjelasan:

Sotāpanna : Seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, ia telah berhasil membasmi tiga macam belenggu dari sepuluh belenggu yang menghalangi pencapaian kesucian Arahat. Tidak akan muncul lagi kepercayaan tentang akan adanya diri yang terpisah dan kekal/atta , tidak akan ada keraguan terhadap Buddha dan ajara-Nya, dan tidak akan ada Kepercayaan terhadap upacara yang tergolong dalam pandangan salah di dalam konsepsinya. Ketiga hal tersebut ia basmi dengan pandangan benar yang berhubungan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan, sehingga pemahaman tersebut dikatakan pencerahan karena ia yang mencapai tingkatan kesucian Sotāpanna ini, telah melihat dengan benar bahwa tiga belenggu itu merupakan penghalang.

Sakadāgāmi. Dikatakan telah mencapai tingkatan Sakadāgāmi bila seseorang telah membasmi tiga belenggu yang pertama dan melemahkan dua belenggu selanjutnya. Sakkāyadiṭṭhi, Vicikiccha dan Silabbataparāmāsa telah dibasmi dengan tuntas olehSakadāgāmi, sedangkan Kāmarāga atau hawa nafsu rendah dan Paṭigha atau kebencian, dendam, kemauan jahat, dua hal itu hanya dilemahkan oleh Sakadāgāmi. Dikatakan lemah karena ia dapat mengendalikan dua belenggu tersebut namun sesungguhnya dua belenggu tersebut masih terdapat dalam dirinya. Maka dari itu kata melemahkan sangatlah cocok untuk menggantikan istilah ini.

Anāgāmi Seseorang yang telah mencapai tingkatan Anāgāmi ia tidak akan terlahir kembali di alam  manusia. Kelahiranya hanya bersisa satu kali lagi. Yaitu di alam Tusita. Di alam ini seorang Anāgāmi terlahir secara sepontan atau opapatika. Hal ini dikarenakan usahanya yang gigih dari penimbunan kebajikan paramita dan usahanya yang gigih dalam membasmi belenggu-belenggu penghalang pencapaian tingkat kesucian. Seorang Anāgāmi telah membasmi Lima kekotoran batin. Tidak ada lagiSakkāyadiṭṭhi, Vicikiccha, Silabbataparāmāsa, Kāmarāga dan Paṭigha di dalam dirinya. Semua itu telah ia basmi sampai ke akar-akarnya. Sehingga ia disebut seorang Anāgāmi yaitu yang “Tak Kembali Lagi”. Yang dimaksud tak kembali lagi disini ialah tidak akan terlahir lagi di alam manusia dan Empat alam Apaya.

Arahat. Arahat adalah seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian yang tertinggi. Ia telah menyelesaikan tugas yang sesungguhnya. Kelahiran yang sekarang adalah kelahiranya yang terakhir. Setelah badan atau jasmaninya hancur maka ia pun tidak akan terlahir di alam manapun juga. Buddha memberikan perumpamaan kepada Upayisa. Ketika Upayisa menanyakan hal ini. Perumpamaan tersebut di ibaratkan seperti hal nya api yang padam setelah tertiup oleh angin. Tak ada yang tahu dimana letak api tersebut setelah ia padam, begitu juga dengan seorang Arahat. Seorang Arahat tidak akan telahir lagi di alam manapun. Karena tidak ada kelahiran bagi arahat maka usia tua, sakit dan kematian serta lingkaran samsara telah tiada bagiArahat. Karena hal-hal tersebut tidak dijumpai lagi maka ia telah mengakhiri dukkha/penderitaan. Untuk menjadi seorangArahat harus membasmi sepuluh macam kekotoran batin. Sedikitpun dari sepuluh belenggu tersebut tidak ada yang tersisa. Ketika hal itu terjadi maka seseorang tersebut adalah suci karena tidak ada kekotoran atau belenggu di dalam dirinya.

Empat jenis kesucian tersebut dapat dicapai atas usaha sendiri dari memahami Dhamma/kebenaran disamping itu factor yang tidak kalah penting adalah Paramita yang akan selalu mendukung pencapaian tersebut. Untuk lebih jelas silahkan mencari refrensi tentang sepuluh paramita atau Dasaparami pada refrensi Buddhist.

Semoga menambah wawasan. (http://vgbmbatam.blogspot.com/)

Refrensi:

-          Bhikkhu Bodhi. 2009. Tipitaka Tematik, Ehipassiko.

-          Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dharma. Tri Satva Buddhist Centre.

-          Tipiṭakadhara. Mingun Sayadaw. Riwayat Agung Para Buddha 1,2 dan 3. Ehipassiko Collection dan Girimaṅgala.

-          Bhikkhu Kusaladhamma. 2009. Kronologi Hidup Buddha. Ehipassiko Foundation.

http://vgbmbatam.blogspot.co.id

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]