Kekayaan Yang Tak Dapat Dirampas

👁 0 View
2019-04-10 11:05:51

Konon nama baik adalah harta yang paling besar dalam kehidupan manusia. 
Namun, bahkan nama baik juga tidak dapat dibawa serta saat meninggal, karena nama baik adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam pikiran orang lain. 
Nama baik adalah pandangan orang lain terhadap kebaikan yang dibuat oleh seseorang, yang perbuatan baiknya itu diketahui oleh orang lain. 
Ketika seseorang mati, nama baik itu tidak dapat dibawa serta juga. 
Karena itu, muncul peribahasa yang mengatakan 
‘gajah mati meninggalkan gading, 
harimau mati meninggalkan belang, 
manusia mati meninggalkan nama’. Ya, nama baik itu juga harus ditinggalkan, tidak dapat dibawa serta.

Tetapi meski demikian bukan berarti tidak ada kekayaan yang tak dapat dipertahankan.
Di muka bumi ini, ada satu, ya hanya ada satu kekayaan yang dapat dipertahankan, yakni pahala kebajikan. 
Pahala kebajikan adalah harta kekayaaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. 
Pahala kebajikan 
tidak dapat dikorupsi, 
tidak dapat dirampok, 
tidak dapat didevaluasi, 
dan yang paling penting adalah pahala kebajikan dapat dibawa melintasi gerbang kematian. 
Lebih jauh lagi, pahala kebajikan tidak hanya sekedar dapat dibawa melintasi kematian menuju kehidupan yang akan datang, tetapi pahala kebajikan juga merupakan investasi untuk kehidupan berikutnya.

Mangala Sutta mencatat sabda sang Buddha tentang salah satu berkah utama dalam kehidupan adalah Pubbekatapunnata yang artinya ‘telah menimbun jasa kebajikan dalam kehidupan lampau’. 
Lalu, mengapa menimbun jasa kebajikan dalam kehidupan lampau menjadi demikian krusial sehingga dikatakan sebagai sebuah berkah utama?

Beberapa ajaran agama meyakini adanya kehidupan (entah di surga atau neraka) setelah kehidupan ini. 
Surga atau neraka bergantung dari perbuatan manusia selama hidupnya, ya inilah hasil perbuatan hanya dalam satu kali kehidupan setiap manusia. 
Ajaran ini tidak dapat menerima adanya kehidupan sebelum kehidupan yang sekarang ini bagi setiap makhluk. 
Buddhisme sebaliknya mengajarkan bahwa jika ada kehidupan yang akan datang yang ditentukan oleh perbuatan selama kehidupan ini, maka konsistensinya adalah tentu ada kehidupan sebelumnya yang menjadi penentu dari kehidupan saat ini.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa timbunan jasa kebajikan di kehidupan yang lampau merupakan bagian dari berkah utama (mangala). 
Karena timbunan pahala kebajikan dalam kehidupan lampau akan menjadi penentu dari kehidupan kini, demikian pula perbuatan pada kehidupan ini menjadi penentu bagi kehidupan yang akan datang.

Ada tidaknya timbunan pahala dalam kehidupan lampau itu pulalah yang mampu memberi jawaban memuaskan mengenai sebab dari perbedaan yang ada di antara makhluk hidup. 
Oleh karena itulah ajaran Buddha secara tegas menolak konsep takdir atau pandangan-pandangan dogmatis yang menyatakan bahwa apa yang menimpa manusia adalah cobaan dari makhluk adikodrati.

Adakah diri kita telah menimbun pahala kebajikan pada kehidupan lampau ? 
Bagi umat Buddha, apa yang sudah lalu tidaklah sepenting apa yang sedang dijalani saat ini. 
Mencari tahu ada tidaknya timbunan pahala kebajikan dalam kehidupan lampau tidak akan membawa perubahan apa-apa karena yang sudah lalu tidaklah dapat dirubah.

Adalah lebih penting berfokus pada saat ini untuk berbuat kebajikan, karena inilah harta yang akan dibawa menuju kehidupan yang akan datang. 
Dengan demikian, janganlah menangisi diri bahwa dalam kehidupan ini kita tidak mendapat berkah utama atau memiliki timbunan pahala kebajikan hasil perbuatan tubuh, ucapan dan pikiran pada kehidupan lampau, tetapi lebih penting segeralah menimbun pahala kebajikan dalam kehidupan ini, sehingga kelak pada kehidupan mendatang kita akan mendapat berkah utama. 
Inilah kekayaan yang tidak dapat dirampas dari kita, bahkan oleh kematian sekalipun.

Diambil dan di-edit dari :
dhammacitta.
abin-nagasena/kekayaan-yang-tidak-dapat-dirampas.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com