Manfaat Menjalani UPOSATHA SILA

👁 1 View
2018-04-16 09:57:59

Uposatha - Sila atau delapan Sila ini adalah suatu praktek moralitas yang sangat tinggi untuk dijalankan dan memberi manfaat yang sangat besar. Seperti sudah kita ketahui tentang seberapa besar manfaat dari menjalankan Panca-Sila. Uposatha -Sila memberi manfaat yang jauh lebih besar dari pada itu. Dikarenakan semua moralitas yang harus di latih dalam Panca -Sila sudah termasuk dalam Uposatha-sila, bahkan Uposatha -Sila melatih lebih banyak moralitas dari pada Panca-Sila.

Dalam menjalankan Uposatha-Sila, apabila kita hanya mencoba tidak melanggar sila tersebut tidak akan memberikan manfaat sebesar-besarnya apabila kita menjalankannya dengan tulus dan sepenuh hati. Seperti seorang gadis yang membersihkan badan dan rambutnya sebelum dia mempercantik dirinya dengan bedak dan berbagai peralatan kecantikan yang membuat dirinya cantik. Demikian juga dengan seseorang yang ingin mempratekkan Uposatha-Sila, harus memurnikan pikirannya dari keserakahan, kemarahan, pandangan salah, iri-hati atau cemburu, dan berbagai kekotoran batin lainnya agar bisa memaksimalkan manfaat yang didapat dalam menjalankan praktek Uposatha -Sila.

Apa saja manfaat yang bisa di dapatkan dari seseorang yang menjalankan Uposatha-sila;

1. Seseorang yang menjalankan Upostha-Sila akan mendapatkan kemakmuran dan kekuatan yang besar.
2. Bahkan seorang penguasa dunia di kehidupan selanjutnya bisa menjadi seorang penguasa dunia kembali apabila ia menjalankan Uposatha-sila.
3. Seseorang akan mendapatkan manfaat yang berkala seperti menikmati kemakmuran dan kemewahan yang besar di alam dewata dan manusia selama perjalanan dia di dalam samsara hingga ia mencapai Nibbana terbebas dari tunimbal lahir.
4. Dalam kehidupannya yang sekarang, ia kaan terlihat cerah, berbudi dan baik, dan juga seseorang bisa mendapatkan rasa kagum dan cinta-kasih dari banyak pihak seperti mahluk-mahluk dewata, manusia dan juga mahluk-mahluk lainnya.
5. Dan banyak cerita seperti dewata-dewata yaitu Uttara, Sonadinna, dan Uposatha yang mendapatkan kebahagiaan dewata yang besar dikarenakan dimasa lalu menjalankan Uposatha-Sila.

Pada zaman dulu di sebuah kota kuno yang bernama Saketa, terdapat seorang umat wanita yang bernama Uposattha. Dia adalah seorang umat yang taat dengan berkeyakinan dan sangat menjaga moralitasnya (sila). Ia menyokong kehidupan Sangha dengan empat macam kebutuhan. Dia selalu menjalankan delapan sila pada hari Uposatha. Dia secara berkala mendengarkan ceramah dari Sang Buddha dan juga siswa Buddha. Dia juga sering berlatih meditasi dan segera ia menjadi seorang yang mencapai tingkat kesucian Sotapanna (pemenang arus).

Dari Sang Buddha dan para siswanya ia pernah mendengar tentang keindahan taman Nandavana di surga Tavatimsa yang sangat menyenangkan juga nan indah....maka ia pun mentekadkan dirinya untuk mencapai tempat tersebut. Ketika ia meninggal ia terlahir di surga Tavatimsa dan menjadi seorang gadis dewata dengan nama Uposatha di taman Nandavana.

Sang Buddha sendiri sering kali mengatakan kepada para siswa-Nya:

"SESEORANG YANG MEMILIKI MORALITAS YANG BAIK,
DIKARENAKAN PIKIRANNYA YANG MURNI,
CITA-CITA ATAU HASRATNYA AKAN TERCAPAI,
SESUAI DENGAN BAGAIMANA IA MEMIKIRKANNYA."

Ini dikarenakan seorang yang memiliki moral yang baik pastinya mempunyai tujuan yang mulia, bersama dengan kehendak baiknya yang kuat, akan tercapai cita-cita atau keinginannya seperti yang ia pikirkan.

Syair ini dijelaskan dalam Angutara-Nikaya 8:41 ; IV 248. 51:

Buddha mengatakan;

Para Bhikkhu, saat pelaksanaan Upostha sempurna dalam kedelapan faktor ini, pelaksanaan tersebut sungguh membawa andil dan bermanfaat, berkilau dan merebak. Dan sejauh apakah pelaksanaan tersebut sungguh membawa hasil dan bermanfaat, berkilau dan merebak?

Para Bhikkhu, seandainya seseorang hendak menduduki dan menguasai keenam belas negeri besar yang memiliki ketujuh harta berharga yang berlimpah ini, yaitu Anga, Magadha, Kasi, Kosala, Kaum Vajji, kaum Malla, Kaum Ceti, Vamsa, kaum Kuru, kaum Pancala, Maccha, Surasena, Assaka, Avanti, Gandhara, dan Kamboja, ini belumlah sebanding seperenam belas dari pelaksanaan Upostha yang sempurna dalam kedelapan faktor tersebut. Karena kerajaan manusia adalah rendah jika dibandingkan dengan kebahagiaan di alam Surgawi."

Para Bhikku, 50 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Catummaharajika. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Catummaharajika adalah 500 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Catummaharajika. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.'

Para Bhikku, 100 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Tavatimsa. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Tavatimsa adalah 1000 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Tavatimsa. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.'

Para Bhikku, 200 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Yama. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Yama adalah 2000 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Yama. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.'

Para Bhikku, 400 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Tusita. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Tusita adalah 4000 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Tusita. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.'

Para Bhikku, 800 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Nimmanarati. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Nimmanarati adalah 8000 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Nimmanarati. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya.'

Para Bhikku, 1600 tahun Alam manusia setara dengan sehari semalam Para Dewa Parinimmitavasavatti. Tiga puluh hari demikian adalah sebulan. Dua belas bulan demikian adalah satu tahun. Usia Para Dewa Parinimmitavasavatti adalah 16000 tahun demikian. Besar kemungkinan, Para Bhikku, ada Pria atau Wanita tertentu, setelah mengamalkan Uposatha Berunsur Delapan, apabila badan jasmaninya hancur sesudah meninggal dunia, akan terlahir kembali diantara Para Dewa Parinimmitavasavatti. Inilah, Para Bhikku, yang tersirat dalam ungkapan ' Bila dibandingkan dengan Kebahagiaan Surgawi, Kerajaan manusia sungguh tiada nilainya'

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]