Seputar Penggunaan Ungkapan "Namo Buddhaya"

👁 1 View
2017-09-19 16:42:58

Sebagai seorang umat Buddha, kita tentu akrab dengan ungkapan "Namo Buddhaya". Saat ini, kita mengenalnya sebagai salam yang diucapkan bila bertemu dengan sesama umat Buddha. Ungkapan itu juga sering dipakai sebelum pandita atau pemberi Dhammadesana memulai pembabaran Dhamma. Apakah memang "Namo Buddhaya" merupakan sebuah 'salam resmi'-nya umat Buddha? Sejak kapan? Berasal dari mana? Apa artinya?

Semua pertanyaan mengenai asal usul penggunaan ungkapan "Namo Buddhaya" mudah-mudahan bisa terjawab dengan penjelasan singkat dari Y.M. Uttamo Thera dan Y.M. Bhikkhu Dhammadiro

Y.M. Uttamo Thera:

Arti "Namo Buddhaya" adalah 'Terpujilah semua Buddha'. Hal ini adalah merupakan suatu ajakan kita kepada orang lain untuk memuji para Buddha. Saat ini, ajakan memuji ini dijadikan sebagai salam Buddhis. 

Y.M. Bhikkhu Dhammadiro:

Kata 'Namo Buddhâya' adalah suatu kalimat yang diucapkan oleh mereka yang menaruh hormat dan yakin pada Sang Buddha (artinya bukan sabda Buddha sendiri). Dan tidak ada dijumpai dalam Tipitaka. Dalam tingkat Atthakathâ pun kata ini mungkin belum populer, terbukti dengan tidak tercantumkannya di dalamnya. Kata ini baru disebut-sebut dalam kitab penjelasan tatabahasa Pâli (Saddanîti-pakarana) yang disusun di Srilanka kira-kira seribu tahun yang lalu (ini hanya perkiraan secara kasaran, saya tidak bisa memastikan waktunya. Di sini, yang saya maksudkan adalah penggubahan kitab itu dilakukan jauh setelah disusunnya kitab Atthakathâ dan Kitab Tatabahasa Pâli era awal).

Sementara itu, ada bentuk kalimat yang lain dari kalimat tersebut, yakni: "Namo Buddhassa". Kalimat ini memang telah ada sejak jaman Atthakathâ. Dan, tradisi Theravâda di Burma lebih banyak menggunakan kata ini daripada kata "Namo Buddhâya". Lebih dari itu, baik kata "Namo Buddhâya" maupun "Namo Buddhassa" tidak umum dipakai dalam tradisi Theravâda di Thai.

 Sumber : buddhistonline.com

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com