Sigalovada Sutta

👁 1 View
2018-11-29 09:12:08

(Digha Nikaya III, 180-193)

Demikianlah telah kudengar :

1. Pada suatu hari Sang Bhagava berdiam di Kalandakanivapa (tempat pemeliharaan tupai), Veluvana (Hutan Bambu), dekat kota Rajagaha. Ketika itu seorang pemuda bernama Sigala, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar kota dengan rambut dan pakaian basah menyembah dengan merangkapkan tangannya ke atas, keenam arah langit dan bumi: arah timur, arah selatan, arah barat, arah utara, arah bawah dan arah atas.

2. Dan Sang Bhagava pagi hari itu, setelah selesai berkemas, membawa mangkuk dan jubahNya memasuki kota Rajagaha untuk pindapata (mengumpulkan dana makanan). Ketika Beliau melihat pemuda Sigala sedang memuja dengan caranya tersebut Beliau bertanya :”Mengapa, anak muda, engkau bangun pagi-pagi sekali, membasahi rambut dan pakaianmu kemudian menyembah ke enam arah langit dan bumi ?’

“Yang Mulia, ayahku ketika mau meninggal dunia telah meninggalkan pesan, “Anakku yang tercinta, engkau harus memuja ke enam arah langit dan bumi.” Karena saya ingin menaati pesan ayahku yang kujunjung tinggi, yang kuhormati dan kuanggap suci, maka saya bangun pagi-pagi sekali, lalu pergi ke luar Rajagaha dan memuja secara begini.”

“Tetapi dalam agama Ariya, anak muda, memuja enam arah langit dan bumi bukan begitu caranya. ” Ujar Sang Buddha.

“Kalau begitu, bagaimanakah cara memuja enam arah langit dan bumi dalam agama Ariya ? Alangkah baiknya, apabila Yang Mulia berkenan memberikan pelajaran kepada saya, bagaimana seharusnya enam arah langit dan bumi itu dipuja menurut ajaran agama Ariya. ”

“Kalau begitu, dengarlah anak muda, perhatikanlah baik-baik apa yang akan Kukatakan. ”

” Baiklah, Yang Mulia. ”

3. “Anak muda, apabila seorang siswa Ariya telah menyingkirkan empat cacad dalam tingkah laku, apabila ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena dorongan dari empat sebab, apabila ia tidak melakukan enam jalan untuk menghabiskan harta, dengan demikian ia menjauhkan diri dari empat belas kejahatan; ia adalah pemuja dari enam arah langit dan bumi.

Ia melakukan hal-hal tersebut untuk menaklukkan dua dunia (alam), ia akan menikmati hasilnya baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Pada saat badan jasmaninya hancur, setelah mati, ia akan bertumimbal lahir di alam surga yang berbahagia.

Apakah empat cacad dalam tingkah laku yang telah ia singkirkan ?’

  1. Memusnahkan mahluk hidup
  2. Mengambil apa yang tidak diberikan
  3. Melakukan perbuatan asusila
  4. Mengucapkan kata-kata yang tidak benar

Inilah empat cacad dalam tingkah laku yang telah ia singkirkan. ”

4. Kemudian Sang Bhagava melanjutkan :

“Untuk pembunuhan, pencurian, dusta dan perzinahan, tidak sepatah kata pujianpun pernah diberikan oleh para Bijaksana. “

5. “Apakah empat sebab yang mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan?” “Perbuatan jahat dilakukan atas dorongan : hawa nafsu, kebencian, kebodohan dan ketakutan. Karena seorang siswa Ariya tidak lagi dapat dipengaruhi, maka ia tidak akan melakukan perbuatan jahat karena dorongan empat sebab tersebut diatas.”

6. Selanjutnya Sang Bhagava bersabda :

“Barang siapa yang melanggar Dhamma,
Karena hawa nafsu, kebencian, kebodohan dan ketakutan,
Nama baiknya akan menjadi suram,
Bagaikan bulan sabit pada waktu gelap bulan.
Barang siapa yang tidak melanggar Dhamma,
Karena hawa nafsu, kebencian, kebodohan dan ketakutan,
Nama baik dan kemashurannya akan meningkat,
Bagaikan bulan purnama pada waktu terang bulan.”

7. “Apakah yang dimaksud dengan enam jalan untuk menghabiskan harta ?”

“Yang dimaksud dengan enam jalan untuk menghabiskan harta adalah :

  1. Ketagihan minuman keras (alkohol)
  2. Sering mengunjungi tempat hiburan
  3. Sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak layak
  4. Gemar berjudi
  5. Pergaulan dengan orang jahat
  6. Kebiasaan bermalas-malasan. “

8. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi mereka yang ketagihan minuman keras.”

a.1. Harta cepat habis
a.2. Sering bertengkar dengan orang lain
a.3. Mudah terserang penyakit
a.4. Kehilangan watak yang baik
a.5. Penampilan diri menjadi tidak pantas
a.6. Kecerdasan berkurang

9. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi orang yang sering berkeliaran di jalan pada, waktu yang tidak layak. ”
Enam bahaya itu adalah :

b.1. Dirinya tidak terjaga dan tidak terlindungi dengan baik
b.2. Anak dan isterinya juga tidak terjaga dan tidak terlindungi dengan baik
b.3. Hartanya juga tidak terjaga dan tidak terlindungi dengan baik
b.4 Sering dituduh melakukan kejahatan (yang belum terungkap)
b.5. Mengalami banyak kesulitan lain

10. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi mereka yang sering mengunjungi tempat-tempat hiburan. ”
Didalam pikirannya selalu bertanya-tanya :

c.1. Dimanakah ada tari-tarian ?
c.2. Dimanakah ada nyanyi-nyanyian?
c.3. Dimanakah ada musik ?
c.4. Dimanakah ada pertunjukan ?
c.5. Dimanakah ada pukulan tabuh-tabuhan ?
c.6. Dimanakah ada pukulan gendang ?

11. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi orang yang gemar berjudi”
Enam bahaya itu adalah :

d.1. Jika ia menang, maka ia akan dibenci orang yang kalah
d.2. Jika ia kalah, ia hanya dapat meratapi hartanya yang hilang
d.3. Menghambur-hamburkan harta kalau menang judi
d.4. Di pengadilan, kata-katanya tidak dipercaya
d.5. Dipandang rendah oleh kawan-kawan dan para pejabat
d.6. Tidak dicari oleh para orang tua yang sedang mencari menantu, karena mereka beranggapan bahwa seorang penjudi tidak akan mampu mempunyai seorang isteri.

12. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi orang yang mempunyai pergaulan dengan orang-orang jahat. ”
Enam bahaya itu adalah :

e.1. Setiap penjudi adalah kawannya
e.2. Setiap orang yang cabul (pelaku asusila) adalah kawannya
e.3. Setiap pemabuk adalah kawannya
e.4. Setiap pembohong adalah kawannya
e.5. Setiap penipu adalah kawannya
e.6. Setiap pembuat keributan adalah kawannya

13. “Terdapat enam bahaya, anak muda, bagi orang yang mempunyai kebiasaan suka bermalas-malasan.”
Enam bahaya itu adalah :

f.1. Dengan alasan terlalu dingin, ia tidak mau bekerja
f.2. Dengan alasan terlalu panas, ia tidak mau bekerja
f.3. Dengan alasan terlalu pagi, ia tidak mau bekerja
f.4. Dengan alasan terlalu siang, ia tidak mau bekerja
f.5. Dengan alasan terlalu lapar, ia tidak mau bekerja
f.6. Dengan alasan terlalu kenyang, ia tidak mau bekerja

Sehingga semua pekerjaan yang harus ia kerjakan tidak dilakukan. Harta yang ada akan semakin menyusut dan habis, sedangkan harta yang baru tidak ia dapatkan. Demikianlah apa yang disabdakan oleh Sang Buddha.

14. Setelah itu Sang Bhagava melanjutkan :

“Beberapa orang adalah kawan minum-minum,
Beberapa lagi mengaku sebagai kawan baikmu,
Tetapi mereka yang membuktikan menjadi kawanmu,
Sewaktu kamu berada dalam kesulitan,
Merekalah sesungguhnya kawanmu yang sejati.

Bangun tidur terlampau siang, berzinah,
Bertengkar, melakukan perbuatan jahat,
Bergaul dengan orang jahat, berhati kejam,
Inilah enam sebab yang membuat orang
mengalami keruntuhan.

Berkawan dengan orang jahat,
Hidup dengan cara yang tidak baik,
Baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang,
Orang ini akan menderita dengan menyedihkan.

Berjudi dan main perempuan, minum-minuman keras,
menonton tari-tarian dan nyanyi-nyanyian,
Tidur di waktu siang dan berkeliaran di waktu malam,
Berkawan dengan orang jahat, berhati kejam,
Inilah enam sebab yang membuat orang mengalami keruntuhan.

Bermain judi, minum minuman keras,
Melakukan perbuatan asusila dengan isteri orang,
Mengikuti orang yang dungu, tidak mengikuti orang yang bijaksana,
Ia akan mejadi suram seperti bulan sabit pada waktu gelap bulan.

Peminum minuman keras, miskin melarat,
Tidak pernah puas minum minuman keras,
pengunjung setia kedai minum,
Bagaikan batu ia tenggelam dalam hutang,
Cepat sekali ia membawa nista kepada keluarganya.

Siapa yang tidur di siang hari,
Dan bergadang di malam hari,
Orang yang selalu tidak bertanggung jawab,
minum minuman keras tanpa batas,
Tentu tidak pantas menjadi kepala keluarga.

Terlalu dingin ! Terlalu panas ! Terlalu siang!
Begitulah keluhannya,
Dengan demikian ia mengelakkan diri dari
pekerjan yang menunggu,
Kesempatan lewat untuk selama-lamanya.
Tetapi orang yang menganggap hawa dingin
atau hawa panas sama saja,
Tidak menghiraukannya dan tetap melakukan
pekerjaannya sebagaimana mestinya,
Ia tidak akan kehilangan kebahagiaannya
dengan cara apapun juga.

15. Empat macam manusia, anak muda, yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu :

  1. Orang yang sangat serakah
  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat apa-apa
  3. Seorang penjilat
  4. Seorang pemboros

16. Atas dasar empat hal “orang yang sangat serakah” harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu :

a. 1. Sangat tamak
a. 2. Memberi hanya sedikit, mengambil banyak
a. 3. Melakukan kewajiban karena takut
a. 4. Hanya mengingat kepentingannya sendiri saja

17. Atas dasar empat hal “orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat apa-apa” harus dianggap sebagai musuhmu yang berpura-pura menjadi sahabatmu :

b.1. Ia membuat pernyataan yang menyenangkan tentang hal-hal yang telah lalu
b.2. Ia membuat pernyataan yang menyenangkan tentang hal-hal yang akan datang
b.3 Ia berusaha disukai olehmu dengan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan tidak ada isinya
b.4. Tetapi, apabila sudah tiba saatnya untuk melakukan sesuatu untukmu, ia akan menyatakan tidak sanggup dengan mengemukakan berbagai alasan yang dicari-cari.

18. Atas dasar empat hal “seorang penjilat” dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu :

c.1. Ia membiarkan anda berbuat kesalahan
c.2. Ia tidak menganjurkan anda untuk berbuat kebajikan
c.3. Didepanmu anda dipuji-puji
c.4. Dibelakangmu ia mencela dirimu.

19. Atas dasar empat hal “seorang pemboros” harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu :

d.1. Ia menjadi sahabatmu, apabila anda suka minum-minuman keras
d.2. Ia menjadi sahabatmu, apabila anda sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas
d.3. Ia menjadi sahabatmu, apabila anda sering mengunjungi tempat pelesiran
d.4. Ia menjadi sahabatmu, apabila anda gemar bejudi.

20. Setelah itu Sang Bhagava melanjutkan :

“Kawan yang hanya mencari sesuatu untuk diambil,
Kawan yang ucapannya berlainan dengan perbuatannya,
Kawan yang pandai menjilat untuk membuat engkau merasa senang,
Kawan yang gembira di jalan yang sesat,
Keempat orang tersebut sebenarnya adalah musuhmu;

Setelah dapat mengenalinya dengan baik,
Seyogyanya orang Bijaksana menghindarinya jauh-jauh,
Bagaikan menghindari jalan yang berbahaya dan menakutkan.”

21. Empat macam manusia, anak muda, yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus :

  1. Sahabat yang suka menolong
  2. Sahabat di waktu senang dan di waktu susah
  3. Sahabat yang suka memberi nasehat yang baik
  4. Sahabat yang selalu memperhatikan keadaanmu

22. Atas dasar empat hal “sahabat yang suka menolong” harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus :

a. 1. Ia menjaga dirimu ketika kamu sedang lengah
a. 2. Ia menjaga milikmu ketika kamu sedang tidak waspada
a. 3. Ia akan melindungimu ketika kamu sedang ketakutan
a. 4. Apabila kamu mau melakukan sesuatu, ia akan membantu kamu lebih dari yang kamu butuhkan

24. Atas dasar empat hal “sahabat di waktu senang dan di waktu susah” harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus :

b.1. Ia mempercayakan rahasianya kepadamu
b.2. Ia juga menjaga rahasiamu
b.3. Apabila kamu dalam kesulitan, ia tidak akan meninggalkan kamu sendirian
b.4. Bahkan ia rela mengorbankan dirinya untuk membela kamu

24. Atas dasar empat hal “sahabat yang suka memberikan nasehat yang baik” harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus :

c.1. Ia mencegah kamu berbuat kesalahan
c.2. Ia menganjurkan kamu berbuat baik
c.3. Ia memberitahukan apa yang kamu belum pernah dengar
c.4. Ia menunjukkan kamu jalan ke surga

25. Atas dasar empat hal “sahabat yang selalu memperhatikan keadaanmu” harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus :

d.1. Ia tidak bergembira melihat kamu mendapat bencana
d.2. Ia turut bergembira melihat keberhasilanmu
d.3. Ia mencegah orang lain berbicara buruk tentang dirimu
d.4. Ia menyetujui setiap orang yang mernuji dirimu.

26. Kemudian Sang Bhagava melanjutkan :

“Sahabat yang suka menolong dirimu,
Sahabat di waktu senang dan di waktu susah,
Ia yang suka memberikan nasehat yang baik,
Dan ia selalu memperhatikan keadaanmu,
Orang Bijaksana menganggap empat jenis manusia tersebut
Sebagai sahabat sejati dan wajib menjaganya dengan baik
Seperti seorang ibu menjaga anak kandungnya sendiri.

Orang yang bajik dan cerdas, Bercahaya seperti api yang menyala
di puncak bukit,
Baginya menimbun harta bagaikan kumbang,
Yang menjelajah mengumpulkan madu tanpa menyakiti siapapun juga
Hartanya menumpuk bagaikan sarang semut yang semakin tinggi,
Jika harta dikumpulkan secara demikian,
Ia akan sanggup menolong sanak keluarganya,

Seyogyanya ia membagi empat hartanya,
Yang sangat disukai dalam kehidupan,
Sebagian ia pakai untuk dinikmati,
Dua bagian lain untuk menjalankan usahanya,

Bagian keempat ia simpan dan timbun,
Sehingga tersedia cadangan jika suatu saat ia memerlukannya.”

27. Dengan cara bagaimanakah, anak muda, siswa yang Ariya menjaga enam arah? Keenam arah itu harus dipandang sebagai berikut :

  1. Kedua orang tua sebagai arah timur
  2. Guru sebagai arah selatan
  3. Isteri dan anak sebagai arah barat
  4. Sahabat dan kenalan sebagai arah utara
  5. Pelayan dan karyawan sebagai arah bawah
  6. Para guru agama dan pertapa sebagai arah atas

28. Dengan lima cara seorang anak memperlakukan orang tuanya sebagai arah timur :

a.1. Dahulu aku telah dipelihara/dibesarkan oleh mereka, sekarang aku akan menyokong mereka
a.2. Aku akan melakukan tugas-tugas kewajibanku terhadap mereka
a.3. Aku akan menjaga baik-baik garis keturunan dan tradisi keluarga
a.4. Aku akan membuat diriku pantas untuk menerima warisan
a.5. Aku akan mengurus persembahyangan kepada sanak keluargaku yang telah meninggal dunia

Dengan lima cara orang tua menunjukkan kasih sayangnya kepada anak sebagai arah timur :

a. 1. Mencegah anak berbuat jahat
a. 2. Menganjurkan anak berbuat baik
a. 3. Memberikan pendidikan profesional kepada anak
a. 4. Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak
a. 5. Menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat

Dengan demikian ia terlindungi dari arah timur, aman dan terjamin

29. Dengan lima cara seorang murid memperlakukan gurunya sebagai arah selatan

b. 1. Bangun dari duduk (apabila guru datang menghampiri sebagai tanda hormat)
b. 2. Melayani guru dengan hormat
b. 3. Bertekad untuk belajar sungguh-sungguh
b. 4. Memberikan jasa-jasa kepadanya (memberikan makanan dan kebutuhan lainnya)
b. 5. Memperhatikan dengan baik segala uraian guru ketika diberi pelajaran

Dengan lima cara guru memperlakukan muridnya, sebagai arah selatan

b’.1. Melatih muridnya dengan baik sesuai dengan keahlian yang dimilikinya
b’.2. Membuat muridnya menguasai pelajaran yang diberikan
b’.3. Ia mengajarkan secara mendalam semua ilmu pengetahuan yang dimilikinya
b’.4. Ia berbicara yang baik-baik tentang muridnya kepada sahabat dan kenalannya
b’.5. Ia menjaga murid dari segala ancaman

Dengan cara demikian ia terlindungi dari arah selatan, aman dan terjamin.

30. Dengan lima cara suami memperlakukan isterinya sebagai arah barat:

c.1. Dengan menghormati isterinya
c.2. Dengan bersikap lemah lembut
c.3. Dengan setia kepada isterinya
c.4. Dengan memberikan kekuasaan tertentu kepada isterinya
c.5. Dengan memberikan perhiasan kepada isterinya

Dengan lima cara seorang isteri memperlakukan suaminya sebagai arah barat :

c’.1. Melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik
c’.2. Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak
c’.3. Setia kepada suaminya
c’.4. Menjaga baik-baik barang-barang yang dibawa suaminya
c’.5. Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya

Dengan cara demikian arah barat telah terlindungi dengan baik, aman dan terjamin.

31. Dengan lima cara orang wajib memperlakukan sahabat atau kenalannya sebagai arah utara :

d.1. Dengan bermurah hati kepada mereka
d.2. Dengan bersikap ramah tamah kepada mereka
d.3. Dengan berbuat baik kepada mereka
d.4. Dengan memperlakukan mereka seperti memperlakukan diri sendiri
d.5. Menepati janji kepada mereka

Dengan lima cara sahabat atau kenalan akan memperlakukannya sebagai arah utara :

d’.1. Mereka akan melindunginya dikala ia tidak siaga
d’.2. Mereka juga akan menjaga harta-bendanya dikala ia tidak siaga
d’.3. Mereka akan melindunginya dalam bahaya
d’.4. Ketika berada dalam kesusahan, mereka tidak akan meninggalkannya
d’.5. Mereka akan menunjukkan perhatian kepada keluarganya.

Dengan demikian arah utara telah terlindungi, aman dan terjamin.

32. Dengan lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan dan karyawannya, sebagai arah bawah :

e.1. Memberi mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya
e.2. Memberi mereka makanan dan upah yang sesuai
e.3. Memberi mereka pengobatan dan perawatan di waktu sedang sakit
e.4. Memberi mereka makanan yang enak-enak pada waktu-waktu tertentu
e.5. Memberi mereka libur (cuti) pada waktu-waktu tertentu

Dengan lima cara para pelayan atau karyawan akan memperlakukan majikan mereka sebagai arah bawah :

e’.1. Mereka bangun lebih pagi dari majikan
e’.2. Mereka pergi tidur setelah majikan tidur
e’.3. Mereka berterima kasih atas upah dan perlakuan yang mereka terima
e’.4. Mereka bekerja dengan baik
e’.5. Mereka memuji dan menjaga nama baik majikannya dimanapun juga

Dengan cara demikian arah bawah telah terlindungi dengan baik, aman dan terjamin.

33. Dengan lima cara seorang umat biasa memperlakukan para pertapa atau bhikkhu,
sebagai arah atas :

f.1. Memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang
f.2. Hanya mengucapkan kata-kata yang ramah kepada mereka
f.3. Memikirkan mereka dengan pikiran yang penuh kasih sayang
f.4. Selalu membuka pintu untuk mereka
f.5. Selalu menyediakan segala keperluan hidup mereka
(pakaian, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal)

Dengan enam cara para pertapa atau bhikkhu memperlakukan umat biasa, sebagai arah atas :

f’.1. Mencegah mereka berbuat kejahatan
f’.2. Menganjurkan mereka berbuat kebaikan
f’.3. Memikirkan mereka dengan penuh kasih sayang
f’.4. Mengajarkan sesuatu yang mereka belum ketahui
f’.5. Meluruskan pandangan mereka yang keliru
f’.6. Menunjukkan jalan ke surga

Dengan cara demikian arah atas telah terlindungi dengan baik, aman dan terjamin.

34. Demikianlah apa yang disabdakan oleh Sang Bhagava, kemudian Beliau
melanjutkan :

“Ibu dan ayah adalah arah timur,
Guru adalah arah selatan,
Isteri dan anak adalah arah barat,
Sahabat dan kenalan adalah arah utara
Pelayan dan karyawan adalah arah bawah.
Dan arah atas adalah para guru agama dan para pertapa,
Arah-arah tersebut harus dipuja, sesudah mana
Mereka baru pantas disebut sebagai kepala keluarga yang baik,

Orang yang bijaksana, sering melakukan perbuatan yang bajik,
Lemah lembut dan biasa melakukan pemujaan ini.
Rendah hati dan patuh, akan memperoleh penghormatan,
Bangun pagi-pagi, tidak bermalas-malasan,
Batinnya tidak tergoyahkan oleh kemalangan, hidup tanpa cacad,
Pandai, bijaksana, akan memperoleh penghormatan,
Semoga namanya harum dan mempunyai banyak sahabat,
Menyambut mereka dengan ramah tamah dan murah hati,
Memberikan mereka petunjuk dan nasehat yang bijaksana,
Dan memberikan bimbingan kepada mereka,
ia akan memperoleh penghormatan.

Gemar menolong orang, ramah tamah dalam ucapan,
Penuh pengabdian, tidak berpihak kepada orang ini
atau orang itu, sebagaimana diminta oleh situasi.
Itulah hal-hal yang membuat dunia berputar,
Sebagai juga pasak yang membuat roda berputar,
Jika tidak demikian halnya, tidak ada seorang ibupun yang akan menerima,
Penghormatan dan penghargaan atas apa yang dilakukan oleh anaknya,
Juga tidak ada seorang ayahpun yang akan menerimanya,
Tetapi karena hal tersebut benar-benar dipuji oleh para Bijaksana,
Maka patutlah hal-hal tersebut dianggap luhur dan dipuja orang. “

Setelah Sang Bhagava usai mengucapkan kata-kata diatas, Sigala memuji dengan mengatakan :

“Sungguh indah Bhante, Sungguh indah! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, atau memperlihatkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau membawa lampu di waktu gelap gulita, sambil berkata, ‘Siapa yang punya mata, silahkan melihat.’ Demikianlah Dhamma telah dibabarkan dalam berbagai cara oleh Sang Buddha. Dan saya, akan selalu mencari perlindungan kepada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai upasaka, sebagai orang yang berlindung kepada Sang Tiratana sejak hari ini sampai akhir hidup saya.”

https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/tuntunan-perkawinan-dan-hidup-berkeluarga-dalam-agama-buddha/

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]