Angulimala, Pembunuh Berkalung Jari Manusia

👁 1 View
2017-09-21 10:27:28

Semasa hidup Sang Buddha, kota Savatthi merupakan ibukota kerajaan Kosala yang diperintah oleh Raja Pasenadi Kosala. Beliau, putra Maha Raja Kosala, terkenal sebagai seorang raja yang amat pandai, yang memperoleh pendidikan di kota Takkasila.

Setelah menggantikan ayahnya menjadi raja, beliau berhasil memimpin negaranya menjadi makmur, sehingga amat dicintai oleh para menteri dan rakyatnya. Salah seorang menterinya yang bernama Gagga Brahmana, pandai sekali dalam ilmu perbintangan, karena itu ia mendapat kedudukan sebagai peramal.

Gagga Brahmana mempunyai seorang istri bernama Mantani Brahmani. Pada suatu malam, istrinya yang telah mengandung selama sepuluh bulan ini melahirkan seorang putra. Tepat saat sang putra lahir, bulan sedang beredar melintasi sekelompok bintang yang disebut “bintang pencuri” (Cora Nakkhatta), dan pada saat itu pula semua senjata di kota Savatthi mengeluarkan sinar. Demikian juga dengan pedang sang raja yang disimpannya di samping tempat tidurnya.

Gagga Brahmana keluar dari rumahnya, melihat bintang timur dan mengetahui bahwa putranya lahir tepat pada waktu muncul sekelompok “bintang pencuri“ (Cora Nakkhatta). Keesokkan harinya ia pergi menghadap sang raja dan bertanya : “Apakah kemarin malam Baginda dapat tidur atau tidak?” Raja menjawab : “Guru, bagaimana malam itu aku dapat tidur nyenyak dengan semua senjata bersinar? Apakah mungkin akan terjadi bahaya terhadap kerajaan atau pada hidupku?”

Gagga Brahmana berkata : “Baginda, jangan takut. Bersinarnya senjata itu adalah karena kelahiran putraku, bukan karena sebab-sebab lain.” Raja bertanya : “Apakah kelak ia akan menjadi pencuri biasa atau pencuri pengganggu kerajaan?” Dengan maksud mengambil hati sang raja agar beliau tidak memerintahkan untuk membunuh bayi itu, Gagga Brahmana menjawab : “Hanya  menjadi pencuri biasa, Baginda.” Raja berkata : “Kalau hanya pencuri biasa, tak apalah. Ia bagaikan padi Sali ditengah-tengah sawah yang luasnya ribuan hektar.” Selanjutnya raja menganjurkan agar bayi itu dirawat baik-baik.

Pada waktu akan memberikan nama sang bayi, Gagga Brahmana merenungkan peristiwa yang terjadi pada saat bayi dilahirkan dan tentang senjata-senjata yang tidak membahayakan siapa pun, maka bayi itu dinamakannya “Ahimsaka”, artinya “tidak merugikan”. Selanjutnya ia dirawat dengan baik, setelah menjadi dewasa ia disekolahkan di kota Takkasila.

Kota Takkasila yang terletak di pinggir kota Bratavasa, merupakan tempat berkumpulnya para cerdik pandai dan menjadi pusat pendidikan pada masa itu. Siapa pun yang ingin belajar untuk memperoleh pengetahuan sesuai dengan yang diinginkan, baik raja-raja, menteri-menteri, para pegawai, orang kaya maupun pedagang-pedagang dari negara lain; walaupun tempatnya jauh, mereka akan mengirimkan putra-putranya untuk belajar di kota ini.

Ada dua cara untuk memperoleh pendidikan di kota ini, yaitu membayar sendiri dan tinggal bersama dengan guru. Mereka yang tinggal bersama guru harus bekerja. Misalnya mengumpulkan kayu bakar, menimba air, memasak dan sebagainya. Ahimsaka bersekolah dengan cara tinggal bersama guru, yaitu bekerja untuk memdapatkan biaya sekolah.

Ahimsaka amat takut kepada gurunya, ia rajin bekerja dan belajar; bersemangat melayani dan membantu gurunya; berperilaku sopan, berbicara lemah lembut dan ramah. Ia dinilai terbaik diantara murid-murid lainnya, sehingga ia amat disayangi oleh gurunya. Melihat hal ini murid-murid lain menyadari bahwa sejak Ahimsaka berada di sini mereka menjadi tersisihkan. Maka mereka berunding untuk memfitnah dan menjatuhkannya.

Karena perasaan iri yang selalu membakar hati, maka mereka bersama-sama memikirkan cara untuk menjatuhkan Ahimsaka. Akhirnya mereka menemukan suatu cara yang keji dan mereka membagi diri menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menghadap guru dan mengatakan bahwa Ahimsaka bermaksud jahat kepada sang guru. Ketika mereka mengatakan hal itu, sang guru menjadi marah kepada mereka sehingga mereka lari meninggalkan kediaman guru.

Kelompok kedua menghadap guru dengan maksud yang sama pula. Akan tetapi, sang guru masih belum percaya. Kelompok ketiga datang dan mengatakan hal yang sama dengan menambah ceritanya agar dipercaya, sambil berkata : “Bila guru tidak percaya, kita mengharap guru mau merenungkannya. Nanti guru akan mengetahuinya sendiri.” Sang guru merasa ragu-ragu dan berpendapat : “Mungkin mereka itu benar, karena telah beberapa kelompok murid datang dan mengatakan hal yang sama, mungkin mereka tidak bermaksud jahat.” Akhirnya, guru itu memutuskan untuk membunuh Ahimsaka.

Selanjutnya guru itu berpikir : “Apabila aku sendiri yang membunuh Ahimsaka, maka orang-orang akan mengatakan, karena marah murid yang belajar di tempatku agar menjadi pandai telah kubunuh, akibatnya, dikemudian hari tentu tidak ada lagi orang yang mau menjadi muridku. Keuntungan serta kehormatanku akan menjadi lenyap. Sebaiknya aku meminjam tangan orang lain, yaitu menipunya dengan berkata : “Sebelum mendapatkan pelajaran lebih lanjut, engkau harus membunuh 1000 (seribu) orang untuk menambah pengetahuanmu.” Sebelum Ahimsaka dapat membunuh seribu orang, pasti ada orang lain yang dapat melawan dan membunuhnya.”

Setelah guru itu berpikir demikian, ia memanggil Ahimsaka dan menjelaskan hal itu kepadanya. Ahimsaka menjawab : “Guru, keluargaku selalu menjalankan peraturan tidak melukai orang lain, bagaimana aku sendiri dapat berbuat demikian?” Dengan tegas gurunya menjawab : “Bila kau tidak mau melakukannya, bagaimana kau dapat menambah pengetahuanmu dengan baik? Apabila perbuatanitu tidak dilaksanakan, maka pengetahuanmu tidak dapat maju.”

Setelah mendengar perintah itu, Ahimsaka yang amat patuh kepada gurunya membuat keputusan sebagai berikut : “Aku harus pergi dan melaksanakan pekerjaan itu baik-baik.” Ia menyiapkan pakaian dan lima macam senjata; senjata-senjata itu ada yang diikatkan di pinggang dan ada yang dipegang. Kemudian ia memberi hormat pada gurunya dan pergi ke hutan. Ia menunggu di jalan masuk ke hutan, di tengah-tengah hutan dan di jalan keluar dari hutan; siapa pun yang dilihatnya terus dihitung jumlahnya, tetapi ia hanya menghitung mereka dalam hati saja.

Ahimsaka adalah orang bijaksana dan pandai. Sebenarnya ia memiliki daya ingat yang kuat; namun, setelah ia banyak membunuh manusia daya ingatannya menjadi kabur sehingga ia lupa sama sekali berapa jumlah orang yang telah dibunuhnya. Untuk mengingat kembali berapa banyak orang yang telah dibunuhnya, terpaksa ia memotong jari-jari tangan orang yang telah dibunuhnya itu. Jari-jari itu dikumpulkannya di suatu tempat, tetapi jari-jari itu pun hilang. Akhirnya ia membuat untaian kalung yang terdiri dari jari-jari agar dapat dibawa kemana-mana. Karena itu, ia memperoleh nama baru ‘Angulimala’ artinya orang yang memakai untaian kalung jari.

Sebagai tempat tinggalnya, Angulimala berdiam dalam hutan. Ia selalu berpindah-pindah ke seluruh bagian hutan itu. Akibatnya, para pencari kayu bakar menjadi takut, mereka tidak berani masuk ke dalam hutan. Karena tidak melihat seorang pun yang masuk ke dalam hutan, maka pada malam hari Angulimala keluar dari dalam hutan pergi ke desa-desa. Ia mendatangi rumah-rumah penduduk, menendang pintunya sampai roboh, memasuki rumah dan membunuh penghuninya yang sedang tidur; sedangkan penghuni lainnya melarikan diri. Setelah dibunuh, orang itu pun jarinya dipotong dan dibawanya pergi. Karena adanya kejadian ini penduduk desa mengungsi dari desa ke desa lain yang lebih besar dan akhirnya sampai ke ibukota. Para penduduk meninggalkan rumah, membawa sanak keluarga serta harta bendanya, dan mereka tinggal di pinggiran kota Savatthi. Selanjutnya mereka pergi ke alun-alun untuk menyampaikan penderitaan yang telah mereka alami pada sang raja.

Gagga Brahmana mendengar berita tentang kejahatan Angulimala dan penderitaan yang dialami oleh penduduk. Ia menyadari bahwa hal ini ada hubungannya dengan putranya. Ia memberitahu kepada istrinya, Mantani Brahmani, bahwa ada seorang penjahat bernama Angulimala. Ia bukan lain adalah Ahimsaka, putranya sendiri. Tentu saja raja akan menangkapnya. “Apakah yang dapat kita lakukan?” Mantani Brahmana menjawab : “Ada jalan keluar, yaitu, kamu pergi mencari Ahimsaka dan membawanya kemari untuk tinggal bersama kita. Hal ini jangan sampai diketahui oleh orang lain karena nanti ia akan ditangkap.” Gagga Brahmana menolak, karena putranya tidak dapat mengenalnya lagi dan ia takut nanti akan dibunuh olehnya.

Secara naluri, seorang ibu tidak rela apabila melihat anaknya menderita. Demikian pula halnya dengan Mantani Brahmani, ibu Angulimala. Karena cinta kasih yang amat dalam, ia menyadari bahwa satu-satunya orang yang harus menolong anaknya agar terhindar dari mara bahaya adalah dirinya sendiri. Gagga Brahmana menolak untuk mencari Angulimala, maka dengan berani Mantani Brahmani menyatakan bahwa bila Gagga Brahmana tidak mau pergi, ia sendiri yang akan pergi dan walaupun usianya telah lanjut, ia pergi untuk mencari anaknya ke berbagai tempat.

Pada waktu itu Angulimala berada di dalam hutan; ia pergi mengunjungi satu desa ke lain desa yang lebih jauh, yang masih berada dalam wilayah kerajaan Kosala. Badannya berotot kuat, hitam dan dikotori dengan noda-noda darah manusia. Janggut dan kumisnya tumbuh tidak terawat seperti penjahat yang hidup dalam hutan. Ia tidak lagi mempedulikan keindahan, kebersihan, dan kesenangan-kesenangan lain. Hanya satu yang diinginkannya yaitu membunuh manusia sebanyak seribu orang sesuai dengan perintah gurunya. Sekarang ia harus mencari orang yang keseribu untuk dibunuhnya.

Pada waktu itu Sang Buddha sedang berdiam di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, yang dibangun oelh seorang hartawan yang bernama Anathapindika. Bersamaan dengan ibunya, Mantani Brahmani, yang sedang pergi mencarinya, pada hari itu pula Angulimala sedang mencari korban yang keseribu untuk dibunuhnya. Pada hari itu Sang Buddha sedang bersamadhi dalam Gandhakuti untuk melihat makhluk-makhluk yang dapat ditolong. Melalui mata batin, Beliau mengetahui bahwa penjahat Angulimala sedang mencari korban yang keseribu untuk dibunuh dan diambil jarinya. Kemudian Sang Buddha berpikir : “Apabila aku cepat-cepat menyusulnya, maka Angulimala akan selamat. Dalam hutan itu ia akan mendengarkan ajaranku sehingga ia dapat menginsyafi perbuatan yang salah dan perbuatan yang benar. Ia akan memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu dan akan memperoleh enam kekuatan batin luar biasa Abhinna. Tetapi, bila aku tidak pergi ke sana, maka Angulimala akan bertemu dengan ibunya yang sedang mencarinya. Oleh karena kesadaran yang telah kabur akibat penderitaan yang dialaminya, tidur, makan, dan lama hidup dalam hutan, maka ia tidak akan ingat ibunya lagi. Jika ia sampai membunuh ibunya, tidak mungkin ia dapat mengendalikan dirinya lagi. Baiklah, aku akan menolong Angulimala agar ia selamat.”

Dengan membawa mangkuk (patta) dan jubahnya, pada pagi hari itu Sang Buddha pergi ke desa untuk menerima dana makanan (pindapatta). Setelah memperoleh cukup makanan, Beliau pulang dan bersantap. Setelah itu Sang Buddha memberitahukan kepada para bhikkhu bahwa Beliau akan pergi ke desa untuk menolong orang yang dapat ditolong. Dalam perjalanan ini Beliau tidak membawa bhikkhu-bhikkhu lain. Beliau pergi seorang diri melewati jalan yang sering dipergunakan oleh Angulimala untuk menjagal korban-korbannya.

Di sepanjang jalan yang dilaluinya, Sang Buddha bertemu dengan para petani, pengembala sapi dan pengembala kambing yang wajahnya membayangkan ketakutan. Mereka cepat-cepat menghampiri Beliau; ada yang dengan berbisik dan ada yang dengan nafas terengah-engah berkata demikian : “O Samana, Bhikkhu Yang Mulia, janganlah melanjutkan perjalanan-Mu, penjahat Angulimala berada di sana. Ia adalah orang yang kejam, tangannya berlumuran darah, seorang pembunuh. Orang-orang yang telah dibunuh terus di potong jari-jari tangannya untuk dibuat untaian kalung. Siapa pun yang melewati jalan ini akan dibunuhnya. Kami harap Yang Mulia melewati jalan lain saja.”

Sang Bhagava menyampaikan rasa terima kasih-Nya kepada orang-orang yang telah berbuat baik itu, namun Beliau tidak menolak atau menuruti kata-kata mereka. Beliau tetap melanjutkan perjalanan-Nya dengan tenang. Di sepanjang jalan yang dilalui-Nya, kadang-kadang beliau bertemu dengan para petani, penggembala sapi dan penggembala kambing lain yang juga melarang Beliau untuk melanjutkan perjalanan-Nya. Sekali pun berkali-kali Sang Buddha mendapat larangan dan petunjuk-petunjuk, namun Beliau tetap tidak membatalkan perjalanan yang sedang ditempuh-Nya.

Dari kejauhan Angulimala dapat melihat Sang Buddha sedang mendatangi ke arahnya. Ia terkejut dan merasa heran sekali. Biasanya, walau pun berjumlah tiga puluh atau empat puluh orang pun tidak berani lewat di jalan ini karena takut dibunuh. Tetapi, sekarang mengapa sekali pun bhikkhu ini hanya seorang diri berani lewat di jalan ini? Apakah ia datang untuk mengalahkan akau atau untuk membunuh diriku? Kalau begitu aku akan membunuh-Nya lebih dahulu. Setelah berpikir demikian Angulimala menyiapkan pedangnya sambil menunggu Sang Buddha mendekat dan melewatinya. Kemudian dengan diam-diam ia mengikuti Beliau dari belakang.

Sang Buddha yang memiliki kesaktian luar biasa, menciptakan sungai yang lebar dengan gelombang dahsyat untuk menghalangi Angulimala. Angulimala dapat melihat Sang Buddha, Pelindung Dunia (loka natha), hanya berjalan dengan perlahan-lahan dan tenang. Ketika Angulimala yang bermaksud membunuh Sang Buddha melihat ada sungai besar di hadapannya, dengan sekuat tenaga ia berusaha berenang melawan gelombang yang tak putus-putus menghantam dirinya. Akhirnya ia berhasi sampai di seberang walaupun badannya terasa lelah. Ia merangkak, berdiri dan kembali mengejar Sang Buddha.

Selanjutnya Sang Buddha mengubah jalan menjadi hutan lebat yang penuh dengan ponoh-pohon berduri, dang dengan mudah Beliau berjalan memasuki hutan itu. Tetapi ketika Angulimala yang sedang mengejar Sang Buddha tiba di tepi ‘hutan ciptaan’ melihat Beliau keluar dari hutan ciptaan itu, maka Angulimala cepat menyusul Beliau melalui hutan itu tanpa memikirkan kesukaran yang akan dihadapinya. Ia hanya bertujuan untuk membunuh Sang Buddha saja.

Setelah berhasil keluar dari hutan itu Angulimala dihadapkan lagi dengan sungat yang lebar, sehingga terpaksa dengan susah payah ia berenang menyeberangi sungai itu. Sang Buddha menciptakan rintangan-rintangan di daratan maupun di air sepanjang dua kilometer dengan tujuan agar Angulimala menjadi tabah. Sejak melakukan pembunuhan sehingga hampir seribu orang, Angulimala yang berhati keras itu tidak pernah mengalami penderitaan seperti yang dialaminya pada hari ini. Sekarang ia mendapat rintangan yang hebat, keringat dan air liurnya keluar sehingga bibirnya menjadi kering, tenaganya habis dan ia amat lelah karena harus melintasi hutan dan sungai yang lebar untuk mengejar Sang Buddha.

Angulimala berpendapat bahwa ia tidak dapat menyusul Sang Buddha hanya dengan berjalan perlahar-lahan saja. Kemudian ia berusaha berjalan cepat dan bahkan akhirnya berlari. Tetapi ia tetap saja tidak dapat mengejar Sang Buddha yang hanya berjalan perlahan-lahan. Ia merasa heran dan aneh. Sambil berlari ia berpikir : “Aneh, biasanya aku dapat mengejar gajah, kuda atau pun kereta, tetapi bhikkhu yang hanya berjalan perlahan-lahan ini tidak dapat kukejar walau pun aku telah berusaha berlari secepat mungkin. Mengapa aku tidak dapat menyusulnya? Lebih baik kupangil ia berhenti agar dapat kutanyakan mengapa hal ini terjadi. Dengan demikian aku akan mengerti tentang hal itu.”

Setelah berpikir demikian Angulimala berhenti berlari dan ia berteriak senyaring-nyaringnya : “Bhikkhu, berhentilah! Bhikkhuk, berhentilah!” Terdengar jawaban : “Aku telah berhenti, Angulimala. Dirimu sendiri yang belum berhenti. Berhentilah engkau.” Angulimala berpikir : “Bhikkhu Sakyaputta ini adalah orang yang bertekad tidak akan berbohong, tetapi mengapa ia berkata : ‘Aku telah berhenti, Angulimala. Dirimu sendiri yang belum berhenti. Berhentilah engkau,’ sekali pun ia masih berjalan? Kalau begitu aku akan menanyakan hal ini kepada-Nya.”

Maka ia bertanya : “Bhikkhu, selagi berjalan Kau berkata, ‘Aku telah berhenti’ sedangkan dalam kenyataan Kau masih tetap berjalan. Bila demikian, apa yang Kau maksud dengan ‘Aku telah berhenti’ dan dirimu sendiri yang belum berhenti’ itu?” Sang Bhagava menjawab : “O Angulimala, Aku telah berhenti merugikan makhluk-makhluk lain dan senjata-senjata telah Ku buang untuk selama-lamanya. Tetapi kau sendiri belum memikirkan makhluk-makhluk lain, bahkan merugikan dan membunuh mereka. Sebab itulah Kukatakan bahwa ‘Aku telah berhenti’ dan ‘Dirimu sendiri yang belum berhenti’.”

Setelah Sang Buddha berkata demikian, Angulimala menjadi sadar terhadap apa yang telah ia lakukan. Sebenarnya Angulimala adalah orang yang bijaksana serta mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Tetapi sekarang ia menjadi orang yang jahat dan kejam karena pikirannya selalu diarahkan untuk membunuh. Untuk melaksanankan hal itu ia keluar masuk hutan yang lebat, makan dan tidurnya tidak teratur, ia tidak dapat menikmati kebahagiaan karena selalu menderita lahir dan batin, hidupnya jauh dari Dhamma. Pada saat ini ia dapat mendengar kata-kata Sang Buddha yang tepat mengena di hati sanubarinya. Seketika itu juga ia merasa damai dan bahagia. Wajahnya menjadi cerah bagaikan orang yang baru saja istirahat setelah melakukan perjalanan jauh dan selesai mandi di sebuah sungai yang jernih airnya.

Pada waktu Angulimala berdiri, ia merasa heran karena perasaannya menjadi ringan. Ia dapat menyelami dan mengerti sepenuhnya akan kata-kata Sang Buddha yang singkat itu. Seketika itu juga timbulah pengertian dan kesadaran terhadap Dhamma, tentang sebab akibat yang dihasilkan oleh kejahatan dan kebenaran dan terlintaslah dalam pikirannya hal seperti ini : “Mungkin bhikkhu ini adalah Samana Gotama, Pangeran Siddhatta, Putra Mahamaya.” Setelah ia memperhatikan bentuk tubuh Sang Buddha yang halus dan indah, melihat mata Beliau yang memancarkan cinta kasih dan welas asih, Angulimala menjadi yakin bahwa sekarang ini Sang Buddha datang untuk menolong dirinya.

Kemudian Angulimala melemparkan senjata-senjatanya. Ia bersujud dihadapan Sang Buddha dan berkata : “Lama sekali aku baru mendapatkan pertolongan dari Yang Mulia. Setelah mendengar sabda Yang Mulia, maka mulai saat ini dan seterusnya aku akan menghindari segala perbuatan jahatku.” Setelah itu Angulimala mendekati dan bersujud di kaki Beliau, mohon untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Kemudian Sang Buddha memberikan pentahbisan (upasampada) dengan kata-kata : “Ehi Bhikkhu” “Marilah, bhikkhu” kepada Angulimala, dan membawanya kembali ke vihara Jetavana di kota Savatthi.

Bertepatan pada waktu Sang Buddha membawa bhikkhu Angulimala ke kota Savatthi, di istana, Raja Pasenadi Kosala sedang kesal hatinya memikirkan berita-berita tentang kekejaman dan kebuasan Angulimala. Setelah raja mendapat laporan dari penduduk yang ditimpa kemalangan akibat ulah Angulimala, maka beliau memutuskan untuk pergi sendiri menangkap Angulimala. Sebab, pada zaman itu kepala negara harus bertempur sendiri bersama dengan tentara-tentaranya di medan perang atau untuk menangkap penjahat yang amat berbahaya.

Raja Pasenadi Kosala amat percaya dan setia sekali pada Sang Bhagava, sehingga sebelum pergi menangkap penjahat Angulimala, lebih dahulu ia pergi ke vihara Jetavana menghadap Sang Bhagava dengan pikiran bahwa Sang Bhagava bukan hanya merupakan orang yang dapat menolong untuk kepentingan masa yang akan datang saja, namun juga dapat memberikan pertolongan pada masa sekarang ini. Raja berpikir : “Dalam kepergian kali ini, bila aku selamat Sang Bhagava tentu akan berdiam diri, namun jika kepergianku kali ini tidak selamat, Sang Bhagava tentu akan memberikan kata-kata nasehat yang berharga.”

Ketika mendekati vihara Jetavana, raja menghentikan keretanya di ujung jalan. Kemudian raja turun dari kereta perang dan berjalan kaki menghadap Sang Bhagava. Setelah dekat, raja memberi hormat pada Beliau dan mengambil tempat duduk yang sepantasnya. Demikian pula dengan tentara-tentara yang mengikuti sang raja memberi hormat pada Sang Bhagava.

Pada saat itu Sang Bhagava sedang duduk di tengah-tengah umat. Ketika melihat sang raja telah melepaskan senjata-senjata dari tubuhnya, memberi hormat dan duduk di tempat duduk yang pantas, maka Sang Bhagava bertanya : “Baginda, apakah raja Seniya Bimbisara dari Magadha; Pangeran Licchavi dari kota Vesali marah dengan Baginda, atau raja-raja lain memusuhi Baginda?” Raja Pasenadi Kosala menjawab : “Bhante, tidak ada seorang raja pun yang bermaksud jahat, namun dalam kerajaanku ada seorang penjahat bernama Angulimala. Ia amat kejam, tangannya berlumuran darah, suka membunuh, merugikan penduduk. Ia tidak memiliki cinta kasih atau belas kasihan terhadap siapa pun. Ia mengakibatkan desa-desa menjadi mati, kota-kota menjadi sunyi dengan melakukan pembunuhan terhadap orang-orang; memotong jari-jari tangannya untuk dijadikan untaian kalung. Kita bermaksud akan menangkapnya.”

Sang Buddha berkata : “Baginda raja, seandainya Baginda bertemu dengan Angulimala yang telah mencukur rambut dan jenggotnya; mengenakan jubah kuning, melepaskan hidup berumah tangga, menjadi bhikkhu yang menempuh hidup tanpa rumah; menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pencurian, ucapan-ucapan yang tidak benar; makan sehari sekali; menjalankan kehidupan suci; bersusila, sopan santun dan sebagainya; bagaimanakah pandangan Baginda terhadap Angulimala itu?” Raja menjawab : “Bhante, jika benar demikian halnya, maka aku akan menghormat beliau, menyambut beliau dengan baik, mengundang dan memperlakukan beliau dengan baik, menyediakan empat kebutuhan pokok (jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan) beliau serta melindungi beliau dengan baik. Tetapi bagaimana seorang yang melanggar sila, berkelakuan jahat seperti Angulimala itu dapat menjalankan sila?”

Kemudian Sang Bhagava mengangkat tangannya dan menunjuk kepada seorang bhikkhu yang berbadan tegap yang sedang duduk tidak jauh sambil berkata : “Baginda raja, itulah Angulimala.” Tentara-tentara yang mengikuti sang raja yang sedang duduk berbaris, melihat ke arah yang ditunjukan tangan Sang Buddha. Setelah menyadari bahwa bhikkhu itu adalah Angulimala, serentak mereka semuanya berlari tanpa memperdulikan keselamatan raja. Mereka menyangka bahwa Angulimala telah mengetahui maksud kedatangan mereka, dan mendahului datang ke vihara untuk membunuh mereka. Mereka semua melarikan diri meninggalkan raja seorang diri yang diliputi perasaan cemas dan khawatir.

Sang Bhagava mengetahui raja merasa cemas, lalu berkata : “Jangan takut, Baginda; sekarang bahaya-bahaya yang ditimbulkan Angulimala telah tiada.” Setelah mendengar kata-kata ini raja Pasenadi Kosala menjadi lega, rasa takutnya hilang. Kemudian raja menghadap Angulimala dan berkata : “Apakah Yang Mulia Angulimala?” Terdengar suara bhikkhu itu dengan jelas dan keras, namun penuh kesopanan : “Baginda raja, saya Angulimala.”

Raja bertanya lebih lanjut : “Orang tua bhante berasal dari suku apa?” Bhikkhu Angulimala menjawab : “Baginda, ayah saya berasal dari suku Gagga dan ibu saya berasal dari Mantani.” Setelah mengetahui hal ini, raja bersedia memberikan empat kebutuhan pokok kepada bhikkhu Angulimala. Oleh karena bhikkhu Angulimala menjalankan tapa (dhutanga), yaitu : tinggal di hutan, hanya makan makanan hasil pindapatta, mengenakan jubah kain pembungkus mayat (pamsukula) dan hanya memiliki seperangkap jubah saja, maka bhikkhu Angulimala berkata : “Baginda, saya sudah memiliki seperangkap jubah, janganlah mengkhawatirkan keadaan saya.”

Kemudian raja Pasenadi Kosala menghadap Sang Bhagava; setelah menghormat dan mengambil tempat duduk yang sepantasnya, raja berkata : “Ajaib sekali, Yang Mulia! Kejadian seperti ini belum pernah terjadi, tetapi sekarang benar-benar telah terjadi. Yang Mulia telah membimbing seorang yang tidak dapat dibimbing oleh orang lain; menaklukkan seorang yang tidak dapat ditenangkan oleh orang lain. Bhikkhu Angulimala tidak dapat dibimbing dengan hukuman ataupun dengan senjata.” Selanjutnya raja mohon diri kembali ke istana untuk menyelesaikan urusan-urusan lain. Setelah Sang Buddha berkenan, raja Pasenadi Kosala meninggalkan tempat duduknya dan memberi hormat dengan berjalan mengitari Beliau tiga kali, kemudian meninggalkan vihara Jetavana.

Bhikkhu Angulimala tinggal di tempat yang kecil dalam vihara Jetavana. Cara hidup baru ini berbeda dengan cara hidup lama. Dahulu dengan senjata ia membunuh orang lain. Sekarang, setelah memperoleh bimbingan dari Sang Buddha, ia melatih kerendahan hati walau diganggu oleh makhluk kecil sekali pun. Air yang dipergunakan dan diminum diperikasa dan disaring lebih dahulu, demi keselamatan binatang-binatang kecil yang hidup dalam air. Ia berhati-hati dalam segala tindakan dan ucapan-ucapannya; bersikap sopan santun agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain; melatih pikirannya untuk memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada banyak orang.

Bhikkhu Angulimala bersikap sedang dalam hal makanan; puas dengan makanan yang diperoleh dari hasil pindapata. Walaupun kadang-kadang hanya memperoleh sedikit makanan atau bahkan tidak memperoleh hasil sama sekali, namun ia tetap sabar dan tidak gelisah. Diceritakan bahwa pada suatu hari bhikkhu Angulimala pergi ke kota Savatthi untuk pindapatta. Di tengah jalan beliau melihat seorang wanita yang sedang mengandung tua, hampir melahirkan anaknya; yang dengan gembira memberikan makanan kepada para bhikkhu. Setelah Angulimala mendekat, wanita itu mengenali bahwa bhikkhu itu adalah Angulimala. Ia merasa terkejut dan takut sehingga ia lupa pada keadaan dirinya. Ia berlari, tetapi malang, ia terbentur pagar dan jatuh.

Bhikkhu Angulimala merasa kasihan pada wanita itu. Namun beliau tidak melihat cara lain untuk dapat menolong wanita itu, selain bertekad dengan sungguh-sungguh, dan dengan suara yang keras agar terdengar oleh wanita itu, beliau berkata : “Saudari, semenjak aku menjalankan kehidupan suci ini, aku tidak pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup apa pun . berkat kebenaran (ucapan) ini, semoga Anda beserta bayi dalam kandungan Anda menjadi selamat adanya.” Setelah kata-kata yang mengandung kebenaran ini selesai diucapkan, wanita itu sadar kembali dan dapat melahirkan anaknya dengan mudah. Ibu maupun bayinya selamat.

Selanjutnya bhikkhu Angulimala menjauhkan diri dari bhikkhu-bhikkhu lainnya, hidup menyendiri berlatih Samadhi dengan sungguh-sungguh. Tak berapa lama kemudian ia berhasil mencapai kesucian tingkat arahat (tingkat kesucian sempurna). Setelah berhasil mencapai kesucian, pada keesokan harinya, dengan mengenakan jubah secara rapi, ia membawa mangkuk (patta) pergi ke kota Savatthi untuk pindapatta. Tiba-tiba segumpal tanah liat, sebatang kayu, pasir yang bercampur kerikil dan batu-batuan yang dilemparkan orang-orang untuk mengusir anjing tanpa sengaja mengenainya, sehingga kepalanya bercucuran darah, mangkuknya pecah serta jubahnya menjadi robek-robek. Walaupun demikian bhikkhu Angulimala tetap berjalan dengan tenang, sabar terhadap perasaan sakit yang menyengat itu. Ia berjalan pulang menghadap Sang Buddha dengan kepala bercucuran darah.

Sang Buddha, Maha Guru, Yang Melihat, Yang Penuh Kasih Sayang terhadap semua makhluk melihat Angulimala berjalan dari kejauhan, berkata kepada Yang Mulia Angulimala demikian : “Brahmana, tahankanlah! Tahankanlah, Brahmana! Sekarang engkau merasakan akibat perbuatan-perbuatanmu; yang seharusnya dapat menyebabkan dirimu sengsara dalam alam neraka selama ratusan tahun bahkan selama ribuan tahun.” Akibat luka-luka yang dideritanya, tak lama kemudian Angulimala meninggal dunia, mencapai kebebasan sempurna (parinibbana).

Sumber : Kisah Angulimala terjemahan Y.M T.C.K. Phra Vidhurdhammabhorn

http://krystellahuda.blogspot.co.id

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]