Sigala Muda

👁 1 View
2017-09-20 13:21:41

Anak berbakti yang memperoleh perlindungan dari segala arah. Malam baru saja menyelesaikan tugasnya. Kokok ayam pun menggema membangunkan orang-orang dari kelelapan. Saat kegelapan malam baru saja berlalu, dan sinar terang matahari akan segera datang, bergegas sigala bangun meninggalkan mimpi-mimpi indah semalamnya. Diantara kegelapan malam yang perlahan melenyap. Sigala dengan sigap telah keluar dari rumahnya menyambut terang tanah.

Diantara penduduk Rajagaha yang segera sibuk melakukan aktivitasnya diantara tebaran senyum matahari yang memayunginya, pemuda Sigala telah berdiri di batas kota dengan rambut dan pakaiannya yang basah, Sigala Muda mengangkat kedua tangannya yang dirangkapkan, kemudian bersujud ke berbagai arah, ke bawah menatap bumi dan ke atas menatap langit.

Hari yang telah terang tanah masih menyisakan embun pagi yang membasahi tanah yang dijejaknya, dan langit biru yang membentang luas masih menyisakan senyum cerah mentari yang memberi semangat bagi makhluk-makhluk di bawahnya menggerakkan roda kehidupan. Sigala bersujud beberapa kali menyembah enam penjuru. Begitulah ritual yang telah mentradisi dilakukan pemuda Sigala sebagai tanda bakti dan cintanya kepada almarhum ayahnya.

Enam penjuru arah langit dan bumi disujudi pemuda Sigala dengan tulus dan takjim. Setiap arah, Timur, Selatan, Barat, Utara, serta atas dan bawah memperoleh hormat tulus dari anak muda yang sangat berbakti kepada tradisi leluhurnya. Dimata Sigala, enam arah yang seolah-olah merengkuh segenap sudut-sudut alam semesta itu bagaikan perabuan sanak leluhurnya, orang tuanya yang tengah berbaring dalam haribaan alam semesta. Sigala merasakan damai dan ketenangan, karena dengan melakukan puja bakti seperti itulah ia merasakan kedekatan dengan sanak leluhurnya dan memperoleh perlindungan dari segenap penjuru alam.

Begitulah yang kerap dilakukan anak berbakti itu, menuruti pesan ayahnya yang disampaikannya ketika menjelang meninggal. “Anakku yang tercinta, engkau harus memuja berbagai arah bumi dan langit.” Sigala sangat menjunjung tinggi pesan ayahnya. Ia sangat menghormatinya dan menganggap ayahnya sebagai orang suci. Dalam mewujudkan pesan ayahnya itu, ia selalu bangun pagi-pagi, pergi ke luar Rajagraha, dan memuja ke enam penjuru alam semesta. Rajagraha adalah sebuah kota yang sangat terkenal semasa kehidupan Sang Buddha. Kota yang termasuk besar dalam jamannya ini adalah ibukota dari kerajaan Magadha dengan Rajanya yang terkenal sangat berbakti kepada Sang Buddha dan mendukung perkembangan Buddhadhamma. Kota ini juga termasuk tempat yang menjadi favorit Sang Buddha. Di kota ini, tepatnya di Veluvana (hutan bamboo) di Kalandakanivapa (tempat pemeliharaan Tupai), Raja Bimbisara membangun tempat persinggahan bagi Sang Buddha dan siswa-siswanya.

Ketika itu, Sang Buddha berada di desa Veluvana yang cantik itu, dan seperti biasanya Sang Buddha selalu bangun pada pagi hari, dan segera berkemas melakukan aktivitasnya menyebarluaskan Dhamma. Setelah selesai berkemas dengan membawa mangkuk dan jubah-Nya, beliau memasuki Rajagraha untuk mengumpulkan makanan. Di pagi hari yang cerah itu, pemuda Sigala seperti biasanya sedang melakukan ritual puja baktinya di batas kota Rajagraha. Sang Buddha melihat pemuda Sigala sedang melakukan aktivitasnya, kemudian menghampiri dan bertanya: “Mengapa, anak muda, engkau bangun pagi-pagi, membasahi rambut dan pakaianmu kemudian menyembah ke berbagai arah dan langi?”

Setelah memperoleh penjelasan dari Sigala, Sang Buddha pun kemudian berkata: “Tetapi dalam agama Ariya, anak muda, memuja enam arah bumi dan langit bukan begitu caranya.” Timbul keingintahuan Sigala bagaimana cara memuja yang sesuai dengan agama Ariya (Buddhadarma). Sigala kemudian memohon kepada Sang Buddha untuk menjelaskannya dan memberikan pelajaran sesuai dengan agama Ariya. Berdasarkan pemujaan ke enam arah yang dilakukan Sigala itu, Sang Buddha kemudian menjelaskan tentang Dhamma yang akan disampaikannya. Enam arah adalah terdiri dari empat arah mata angin ditambah dua arah atas dan bawah.

Terhadap empat arah mata angin ini, Sang Buddha mengisi empat arah itu dengan ajaran Dhamma mengenai : Empat cacat tingkah laku, dan Empat sebab yang mendorong orang melakukan kejahatan. Kemudian, ia menggunakan enam arah untuk menjelaskan tentang enam jalan yang dapat menghabiskan harta benda. Akhirnya, sesuai dengan tradisi yang dilakukannya, Sigala muda yang berbakti dengan memuja enam arah itu memperoleh Dhamma Sang Buddha mengenai empat cacat tingkah laku, yang harus disingkirkan: membunuh, mencuri, melakukan asusila, berbohong. Empat penyebab kejahatan yang terdiri dari : hawa nafsu, benci, kebodohan, dan takut. Dan enam saluran pemborosan yang dapat menghabiskan harta, yakni: ketagihan minuman keras, mengunjungi tempat pelesiran, berkeliaran pada waktu yang tak layak, berjudi, pergaulan yang tidak baik, dan kebiasaaan bermalas-malasan. Selanjutnya dijelaskan pula enam akibat dari masing-masing saluran pemborosan itu.

Lebih jauh, terhadap anak muda yang memiliki jiwa sangat berbakti itu, Sang Buddha juga memanfaatkan masing-masing dari keenam arah itu sebagai symbol-simbol dari : orang tua (Timur), guru (Selatan), isteri (Barat), sahabat (Utara), pelayan (Bawah), dan pertapa dan Brahmana(Atas). Buddha tidak menghilangkan keenam arah itu, namun menjadikannya simbol dari orang-orang yang patut mendapat perlakuan yang baik dalam pola hubungan timbal balik yang semestinya bila dalam kehidupan ini ingin mendapat perindungan dari keenam arah, dan selalu selamat.

Dengan begitu, Sang Buddha secara mudah menjelaskan bagaimana relasi atau hubungan timbal balik yang sebaiknya dilakukan, antara anak-orang tua, murid-guru, isteri-suami, sahabat-sahabat, dan siswa-guru rohani/pertapa/brahmana. Selain enam arah itu, terhadap empat arah mata angin, Sang Buddha pun masih mempergunakannya untuk menjelaskan mengenai empat macam sahabat palsu yakni : manusia yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, serta empat macam sahabat sejati, yakni manusia yang harus dipandang sebagai sahabat berhati tulus.

Ada empat tipe yang menghinggapi diri dari sahabat palsu, yaitu: orang yang tamak, banyak bicara tidak berbuat, penjulat, dan pemboros. Begitu pun ada empat tipe dari sahabat sejati,yaitu: sahabat: penolong, senang susah sama-sama, pemberi nasehat baik, dan selalu memperhatikan.

Selanjutnya dari masing-masing empat tipe sahabat palsu dan sahabat sejati itu, Sang Buddha juga menguraikan adanya empat sifat dari masing-masing tipe tersebut, Sigala muda akhirnya memperoleh pelajaran yang sangat luar biasa mengenai persahabatan dari Sang Buddha, suatu pelajaran yang sangat tepat untuk disampaikan kepada anak muda yang sedang mencari identitas dalam pergaulannya dengan sesamanya itu. Cara Sang Buddha mengajarkan Dhamma yang melihat keadaan dan kondisi orang tersebut, sungguh sangat luar biasa dan mengagumkan. Enam arah yang telah begitu mentradisi di hati Sigala, justru dipergunakan oleh Sang Buddha agar Dhamma yang disampaikannya itu cepat meresap dan diingat oleh Sigala, tanpa membuat Sigala merasa telah meninggalkan tradisinya, tetapi malah justru dari enam arah puja baktinya itu ia memperoleh kekayaan makna dan menjadi tercerahkan.

Tanpa tradisi puja bakti yang dilakukannya, tidak mungkin Sigala akan memperoleh Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha dengan cara demikian itu, yang membuatnya merasa kagum, memuji Sang Buddha dan mendatangkan pencerahan dalam batinnya. Dengan wajah yang bersinar penuh kekaguman, Sigala berujar: “ Sungguh indah, Bhante, sungguh indah! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, atau memperlihatkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau membawa lampu di waktu gelap gulita, sambil berkata, “Siapa yang punya mata, silahkan melihat.” Sigala pun akhirnya menyatakan perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan ini menunjukkan pula bahwa Sigala anak muda yang berbakti itu telah menemukan kebenaran sejati di dalam Dhamma Sang Buddha. Jiwa bakti Sigala yang melakukan tradisi memuja ke enam arah sesuai dengan pesan terakhir ayahnya, ternyata menghantarnya kepada pengenalan Buddhadhamma serta memberikan kesempatan kepada Sang Buddha memunculkan kepiawaiannya dalam membabarkan Dhamma.

Peristiwa Sigala yang sedang menjalankan tradisi dan berjumpa dengan Sang Buddha menunjukkan begitu banyaknya metode yang diperlihatkan Sang Buddha di dalam membabarkan ajarannya, dan menunjukkan pula bahwa pintu Dhamma itu dapat dimasuki dalam segala cara, dan pencerahan itu dapat datang dalam keadaan dan kesempatan apapun. Maka di pagi hari yang cerah itu, di batas kota rajagraha yang bertaburan nilai-nilai Buddhis, diantara senyum matahari yang mengembang ramah, dan hari yang semakin terang tanah, pencerahan itu pun mengembang dalam diri Sigala Muda yang menyatakan perlindungan kepada Tiratana untuk seumur hidupnya, dan selalu dalam perlindungan dari segala arah.

http://www.bbcid.org

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]