Visakha - Wanita Penyokong Terbesar Sang Buddha

👁 1 View
2019-06-22 09:01:47

Visakha adalah putri yang berbakti dan murah hati dari seorang jutawan. Ketika ia baru berumur 7 tahun, Sang Buddha mengunjungi tempat kelahirannya. Kakeknya, ketika mendengar adanya kunjungan Sang Buddha tersebut, menyuruh Visakha untuk keluar dan menyambut Sang Buddha. Meskipun ia masih amat muda, tetapi ia taat pada agama dan moral-etik. Dengan demikian, segera setelah mendengar uraian Dhamma dari Sang Buddha, ia mencapai tingkat Kesucian Pertama.

Ketika ia berusia 15 tahun, beberapa orang brahmana yang melihatnya, berpikir bahwa ia akan menjadi istri yang ideal bagi tuannya yang bernama Punnavaddhana, putra seorang jutawan yang bernama Migara. Vishakha memiliki 5 macam kecantikan seorang wanita - rambut yang indah, bentuk badan yang indah, struktur tulang yang bagus, kulit indah yang halus dan berwarna keemasan, serta tampak muda. Dengan demikian mereka membuat persiapan pernikahan Visakha dengan Punnavaddhana.

Pada hari pernikahannya, ayahnya yang bijaksana memberinya beberapa nasihat yang dikelompokkan menjadi sepuluh, sebagai berikut :
1. Seorang istri tidak boleh mencela suami dan mertuanya di depan orang lain.
    Demikian juga kelemahan/kekurangan mereka ataupun pertengkaran rumah tangga tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
2. Seorang istri tidak seharusnya mendengarkan cerita-cerita dan laporan-laporan dari rumah tangga orang lain.
3. Barang-barang boleh dipinjamkan kepada mereka yang mengembalikannya.
4. Barang-barang tidak boleh dipinjamkan kepada mereka yang tidak mengembalikannya.
5. Sanak famili yang miskin dan teman-teman yang miskin harus ditolong meskipun mereka tidak dapat membayar kembali.
6. Seorang istri harus duduk dengan anggun bila melihat mertua atau suaminya, ia harus menghormati mereka dengan berdiri dari duduknya.
7. Sebelum seorang istri makan, ia pertama-tama harus memastikan bahwa mertua dan suaminya telah dilayani. Ia juga harus memastikan bahwa pelayan-pelayannya telah
    diurus dengan baik.
8. Sebelum pergi tidur seorang istri harus memeriksa bahwa semua pintu telah ditutup, perabot rumah telah dirapikan, pelayan-pelayan telah melaksanakan tugas-tugas
    mereka, dan mertua telah pergi tidur. Sebagai aturannya, seorang istri harus bangun pagi-pagi sekali dan jika tidak sakit, ia tidak boleh tidur siang.
9. Mertua dan suami harus diperlakukan dengan sangat hati-hati laksana api.
10. Mertua dan suami harus dihormati seperti layaknya menghormati dewa.

Visakha dan Ayah Mertuanya

Sejak hari pertama Visakha menginjakkan kaki di Savatthi, kota tempat suaminya berada, dia berlaku sangat baik dan dermawan kepada semua orang di kota dan semua orang mencintainya.

Pada suatu hari, ketika ayah mertuanya sedang makan bubur manis dari mangkuk emas, seorang bhikkhu masuk ke dalam perkarangan rumah untuk mengumpulkan dana makanan. Walaupun ayah mertuanya melihat bhikkhu tersebut, dia tetap melanjutkan makan seolah-olah dia tidak melihat bhikkhu itu. Visakha dengan sopan berkata pada bhikkhu tersebut, “Pergilah Yang Mulia, ayah mertua saya sedang memakan makanan basi.”

Sebenarnya sudah sejak lama ayah mertua Visakha tidak senang kepadanya karena Visakha adalah seorang pengikut setia Buddha sedangkan dirinya bukan. Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk mengakhiri pernikahan anaknya dengan Visakha, tetapi perbuatannya selalu saja gagal. Kali ini dia melihat kesempatan itu. Salah mengartikan kata-kata Visakha, dia berpikir bahwa Visakha sudah tidak lagi menaruh rasa hormat terhadap keluarganya.

Dia memerintahkan agar Visakha segera diusir dari rumah, tetapi Visakha mengingatkannya atas permintaan ayahnya kepada delapan pemimpin klan. Ayahnya berkata pada mereka, “Jika ada kesalahan yang dilakukan putriku, selidikilah.”

Ayah mertuanya setuju atas pemintaannya dan meminta agar kedelapan pemimpin klan datang ke rumahnya dan menyelidiki apakah Visakha bersalah atau tidak atas kekasarannya. Ketika mereka tiba ayah mertuanya diam-diam berkata pada mereka, “Temukan kesalahannya dan usir dia dari rumah ini.”

Visakha membuktikan ketidak-bersalahannya dengan menjelaskan, “Yang mulia, ketika ayah mertua saya mengabaikan kehadiran seorang bhikkhu dan tetap melanjutkan memakan bubur susunya dia tidaklah membuat sebuah jasa kebajikan di kehidupan ini. Beliau hanya sedang menikmati jasa-jasa perbuatannya di masa lampau. Bukankah itu sama saja dengan sedang memakan nasi basi?”

Akhirnya ayah mertuanya terpaksa harus mengakui bahwa Visakha tidaklah bersalah.

Masih ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi setelah kejadian ini, tetapi Visakha mampu menjelaskannya sehingga memuaskan ayah mertuanya. Setelah kejadian-kejadian ini, ayah mertuanya mulai menyadari kekeliruannya selama ini dan melihat kebijaksanaan luar biasa yang ada dalam diri Visakha. Dengan saran dari Visakha, dia mengundang Buddha berkunjung ke rumahnya untuk memberikan pelajaran. Mendengar khotbah yang disampaikan oleh Buddha dia pun menjadi seorang sotapanna (tingkat kesucian pertama).

Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, Visakha berhasil mengubah rumah keluarga suaminya menjadi sebuah rumah buddhis yang bahagia. Visakha juga sangat dermawan dan sering membantu para bhikkhu. Dia membangun vihara Pubbarama (Taman Timur) bagi para bhikkhu dengan biaya yang tidak sedikit. Sungguh luar biasa kebahagiaannya ketika Buddha menghabiskan enam musim penghujan disana.

gambar diatas: Visakha sedang memberikan instruksi pembangunan vihara Pubbarama di Savatthi.

Visakha dan (Permohonan) Berkahnya

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi. Visakha pergi berkunjung ke tempat dimana Sang Bhagava berada dan mengundang Beliau untuk mengambil dana makanan di rumahnya. Permintaan itu dikabulkan oleh Buddha. Kemudian hujan turun dengan begitu lebatnya sepanjang malam hari dan terus berlangsung hingga keesokan paginya. Para bhikkhu menggantungkan jubah mereka agar tetap kering dan membiarkan hujan jatuh membasahi tubuh mereka.

Keesokan harinya, ketika Sang Bhagava telah selesai menyantap dana makananNya, Visakha duduk di salah satu sisi dan berkata: “Ada delapan berkah, Yang Mulia, yang mana saya mohon perkenanan dari Anda.”

Sang Bhagava berkata: “Para Tathagata, o Visakha, tidak memberikan berkah apapun sampai Mereka mengetahui apakah berkah-berkah itu.” Visakha menjawab: “Baiklah Yang Mulia, berkah yang saya minta bukanlah sesuatu yang tidak pantas.”

Setelah memperoleh restu untuk mengutarakan permohonannya, Visakha berkata: “Saya menginginkan, Yang Mulia, sepanjang hidup saya untuk dapat memberikan jubah musim penghujan bagi anggota Sangha, dan makanan bagi para bhikkhu yang datang, dan makanan bagi para bhikkhu yang pergi, dan makanan pada mereka yang sakit, dan makanan pada mereka yang menjaga mereka yang sakit, dan obat-obatan bagi mereka yang sakit dan persediaan susu-beras yang teratur bagi Sangha, dan jubah mandi bagi para bhikkhuni.” Buddha berkata: “Tetapi atas alasan apakah, o Visakha, sehingga kamu meminta delapan berkah ini dari Tathagata?”

Visakha membalas: “Saya memberikan perintah, Yang Mulia, kepada pembantu saya dengan berkata, ‘Pergi dan umumkanlah pada para bhikkhu bahwa makanan telah siap.’ Dan pembantu saya pergi, tetapi ketika dia tiba di vihara, dia mengamati bahwa para bhikkhu telah menggantungkan jubah mereka selama hujan dan dia berpikir: ‘Mereka bukanlah para bhikkhu, tetapi para pertapa telanjang yang membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. Jadi dia kembali dan melaporkan kepada saya apa yang dilihatnya, dan saya harus memintanya untuk pergi ke sana untuk kedua kalinya. Sungguh kurang pantas, Yang Mulia, dengan bertelanjang, dan menjijikan. Oleh karena alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki keinginan untuk menyediakan pakaian khusus selama musim hujan kepada Sangha sepanjang hidup saya.

“Untuk berkah kedua saya, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang datang, tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh, dan tidak mengetahui tempat-tempat dimana makanan bisa didapatkan, datang dengan kelelahan dalam upaya mengumpulkan dana makanan. Oleh karena alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki keinginan untuk menyediakan makanan kepada para bhikkhu yang datang sepanjang hidup saya. Untuk berkah ketiga, seorang bhikkhu yang pergi, ketika mengumpulkan dana makanan, mungkin tertinggal jauh di belakang, atau mungkin terlalu lambat sampai di tempat yang dia tuju, dan akan merasa lelah di sepanjang perjalanannya.

“Untuk berkah keempat, Yang Mulia, jika seorang bhikkhu yang sakit tidak memperoleh cukup makanan, maka penyakitnya akan semakin menjangkitinya dan dia mungkin saja akan meninggal. Untuk berkah kelima, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang sedang menjaga mereka yang sakit akan kehilangan kesempatan untuk pergi mengumpulkan dana makanan bagi mereka sendiri. Untuk berkah keenam, Yang Mulia, jika seorang bhikkhu yang sakit tidak memperoleh obat-obatan yang memadai, maka penyakitnya akan semakin menjangkitinya dan dia mungkin saja akan meninggal.

“Untuk berkah ketujuh, Yang Mulia, saya telah mendengar bahwa Sang Bhagava memuji susu-beras karena mampu memberikan kesegaran pada pikiran, melenyapkan rasa lapar dan haus; susu beras bermanfaat bagi mereka yang sehat sebagai makanan, dan bagi mereka yang sakit sebagai obat. Oleh karena itu saya menginginkan dapat menyediakan persediaan susu beras secara teratur kepada Sangha sepanjang hidup saya.

“Terakhir, Yang Mulia, para bhikkhuni memiliki kebiasaan mandi di sungai Achiravati yang bersamaan dengan para pelacur, di tempat yang sama, dan telanjang. Dan para pelacur itu, Yang Mulia, mengolok-olok para bhikkhuni dengan berkata, ‘Apakah gunanya, para wanita, menjaga kesucianmu ketika usia kalian masih muda? Ketika kalian sudah tua, barulah menjaga kesucian; dengan demikian kalian akan menikmati kesenangan duniawi dan kebahagiaan relijius.’ Tidak pantas, Yang Mulia, telanjang bagi seorang wanita, menjijikan dan memuakkan. Atas alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki pengharapan ini.”

Sang Bhagava berkata: “Tetapi apakah untungnya bagi dirimu sendiri, o Visakha, dengan meminta delapan berkah tersebut dari Tathagatha?”

Visakha menjawab: “Para bhikkhu yang telah menghabiskan musim hujan dari berbagai tempat akan datang, Yang Mulia, ke Savatthi untuk mengunjungi Sang Bhagava. Dan dalam perjalanan mereka akan bertanya, dengan berkata: ‘Bhikkhu ini dan ini, Yang Mulia, telah meninggal dunia. Sekarang bagaimanakah nasib mereka?’ Kemudian Sang Bhagava akan menjelaskan bahwa bhikkhu tersebut telah mencapai buah pembebasan; bahwa dia telah mencapai tingkat kesucian Arahat atau telah memasuki Nirvana, sebagai contohnya.

“Dan saya, mendatangi mereka dan bertanya, ‘Apakah bhikkhu itu, yang mulia, salah satu dari mereka yang sebelumnya telah mengunjungi Savatthi?’ Apabila jawaban yang diberikan pada saya, bahwa bhikkhu tersebut telah mengunjungi Savatthi kemudian saya akan berkesimpulan, pastilah bhikkhu tersebut telah menerima entah itu jubah selama musim penghujan, atau makanan bagi para bhikkhu yang datang, atau makanan bagi para bhikkhu yang pergi, atau makanan bagi mereka yang sakit, atau makanan bagi mereka yang menjaga mereka yang sakit, atau obat-obatan bagi mereka yang sakit, atau persediaan susu beras yang telah diberikan secara teratur.’

“Kemudian kegembiraan akan timbul dalam diri saya; kegembiraan itu akan membawa kebahagiaan; dan dengan kebahagiaan maka semua pikiran saya akan berada dalam kedamaian. Berada dalam kedamaian saya akan mengalami sebuah perasaan puas; dan dalam berkah ini hati saya menjadi tenang. Hal itu akan menjadi sebuah latihan bagi perasaan moral saya, sebuah latihan bagi kekuatan moral saya, sebuah latihan dari tujuh jenis kebijaksanaan! Inilah Yang Mulia, keuntungan yang saya peroleh dari permohonan delapan berkah saya kepada Sang Bhagava.”

Sang Bhagava berkata: “Sungguh bagus, Visakha, sungguh bagus. Engkau telah meminta delapan berkah dari Tathagata dengan mengharapkan keuntungan seperti itu. Kedermawanan yang diberikan kepada mereka yang layak menerimanya adalah seperti benih bagus yang ditanam di tanah yang bagus pula dan akan memberikan buah yang melimpah ruah. Tetapi sedekah yang diberikan kepada mereka yang berada dalam kendali tirani hawa nafsu adalah seperti benih yang ditaburkan di tanah yang buruk. Nafsu dari si penerima sedekah akan menghambat berbuahnya jasa-jasa kebajikan.” Dan Sang Bhagava memberikan ucapan terima kasih ini kepada Visakha:

“O wanita mulia yang menjalani kehidupan lurus,

Siswa dari Sang Bhagava, engkau memberikan

Dalam kemurnian hati.

Engkau menyebarkan kebahagiaan, mengurangi kesakitan,

Dan sesungguhnya berkahmu akan menjadi berkat

Bagi banyak orang lainnya seperti kepadamu.”

 

Peranan Visakha dalam Komunitas Buddhis

Dalam salah satu khotbah yang disampaikan Buddha kepada Visakha, Beliau berbicara mengenai delapan kualitas dalam diri seorang wanita yang akan membawanya pada kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia ini dan di kehidupan selanjutnya: “Inilah, Visakha, seorang wanita yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik, mengatur para pelayannya, menaruh rasa hormat pada suami dan menjaga kekayaannya. Inilah, Visakha, seorang wanita yang memiliki keyakinan (saddha) kepada Buddha, Dhamma dan Sangha; sila; kedermawanan (caga); dan kebijaksanaan (panna).”

Menjadi seorang wanita yang memiliki banyak bakat, Visakha telah memainkan peranan penting dalam berbagai aktivitas Buddha dan para pengikut Beliau. Sering kali dia diberikan otoritas oleh Buddha untuk menyelesaikan perselisihan yang muncul di antara para bhikkhuni. Beberapa peraturan Vinaya juga diturunkan kepada para bhikkhuni ketika Visakha diminta datang untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi.

Visakha meninggal pada usia seratus dua puluh tahun. Berkat dukungan penuhnya kepada Buddha dan para anggota Sangha, beliau dianggap sebagai penyokong utama wanita dalam kehidupan Sang Buddha.

gambar: Stupa Visakha, tempat dimana abunya berada, Savatthi

*****

Disusun oleh : Hansen

Diadaptasi dari berbagai sumber:

WIKIPEDIA

http://www.buddhanet.net/e-learning/buddhism/lifebuddha/2_4lbud.htm

http://www.sacred-texts.com/bud/btg/btg35.htm

Kritik dan saran,hubungi : [email protected]