Sariputta | Buta 500 kehidupan? Apa penyebabnya? Kisah Cakkhupala Thera Sariputta

Buta 500 kehidupan? Apa penyebabnya? Kisah Cakkhupala Thera

👁 1 View
2019-08-31 11:39:14

Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, Sang Thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan Sang Thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat Sang Thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.

“Iiih…, mengapa banyak serangga yang mati di sini?” seru seorang bhikkhu. “Aah, jangan jangan…”, celetuk yang lain. “Jangan-jangan apa?” sergah beberapa bhikkhu. “Jangan-jangan ini perbuatan Sang Thera!” jawabnya. “Kok bisa begitu?” tanya yang lain lagi. “Begini, sebelum Sang Thera berdiam disini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin Sang Thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya.”

“Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!” seru beberapa bhikkhu. “Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya”, timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut.

Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa “Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!”

Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, “Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?”

“Tidak bhante”, jawab mereka serempak.

Sang Buddha kemudian menjawab, “Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh.”

“Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?” tanya beberapa bhikkhu.

Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah ini:

Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib yang handal. Suatu ketika datang seorang wanita miskin. “Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Karena miskin, saya tak bisa membayar pertolongan tuan dengan uang. Tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu tuan”, pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib.

Perlahan-lahan penyakit mata yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita itu menjadi ketakutan, apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan terikat menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah-marah ia berbohong kepada sang tabib, bahwa sakit matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah.

Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. “Oh, kalau begitu akan kuganti obatmu”, demikian jawabnya. “Nantikan pembalasanku!” serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib.

Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan penglihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya.

Mengakhiri ceritanya, Sang Buddha kemudian membabarkan syair di bawah ini:

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya,
bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, di antara para bhikkhu yang hadir ada yang terbuka mata batinnya dan mencapai tingkat kesucian arahat dengan mempunyai kemampuan batin analitis ‘Pandangan Terang’ (pati-sambhida).

---------------------

Notes :

Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapatti (pemasuk arus - hanya akan ada 7 kelahiran lagi baginya, orangnya disebut sotapanna, seorang sotapanna tidak akan jatuh ke alam rendah), 
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia), 
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan 
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di mana
pun juga).

Pesan cerita : 
Cerita ini memberitahukan kepada kita. Bahwa apapun yang kita lakukan kepada orang / makhluk lain baik itu tindakan baik atau buruk. Semua akan balik kepada kita.

Tabib ini dengan sengaja membuat rusak mata orang lain. Sebagai akibatnya ia harus menderita kebutaan di 500 kehidupan. Padahal ia hanya berbuat 1x saja.

Inilah yang di sebut kamma. Apabila kita menanam 1 biji mangga akan ada banyak mangga yang tumbuh.

Maka dari itu jangan remehkan perbuatan baik biarpun 1x saja. Penuhilah hidup anda dengan kebaikan. Maka di sepanjamg kelahiran anda hingga mencapai pantai Nibbana anda akan menikmati kebahagiaan dan kesejahteraan yang besar.

Bisa anda bayangkan betapa besar kebajikan untuk berbagi Dhamma, bahkan kepada 1 orang saja. Akan berbuah kebijaksanaan yang maha besar di masa depan. ?

____________________________
Semoga anda mencapai kebahagiaan Nibbana
Forwad BC Dhamma ini kesemua teman Buddhist anda melalui FB, Wa, etc
Karena persembahan Dhamma adalah persembahan tertinggi.
Persembahan Dhamma akan berbuah kebijaksanaan bagi pemberi dan penerima

Bagi yang ingin mendapat BC Dhamma

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com