Ketam Yang Bijak Oleh Ajahn Chah (Kutipan Buku Ini Pun Akan Berlalu)

👁 1 View
2019-09-17 13:13:57

Dahulu ada, sebuah telaga besar yeng penuh ikan. Seiring waktu berlalu, curah hujan berkurang dan telaga itu menjadi dangkal. Suatu hari seekor burung muncul di tepi telaga. Burung itu berkata kepada ikan, ”Aku benar-benar kasihan kepada kalian, ikan-ikan. Pernahkah kalian nyaris tidak punya air untuk membasahi punggung kalian? Tahukah kalian bahwa tidak jauh dari sini ada sebuah telaga besar, dalamnya beberapa meter, tempat ikan-ikan berenang dengan riang?”

Ketika ikan di dalam telaga cetek itu mendengarnya, mereka jadi gembira. Mereka berkata kepada burung, ”Sepertinya bagus. Tapi bagaimana kami bisa ke sana?”

Burung itu berkata, ”Tidak masalah. Aku bisa membawa kalian di dalam paruhku, satu per satu.”

Para ikan berembuk sendiri. ”Di sini tidak begitu enak lagi. Airnya bahkan tidak menutupi kepala kita. Kita harus pergi.” Jadi mereka berbaris untuk dibawa oleh burung.

Burung itu membawa ikan satu per satu. Segera setelah ia keluar dari pandangan telaga itu, ia mendarat dan memangsa ikan itu. Kemudian ia kembali ke telaga dan berkata kepada mereka, ”Kawan kalian saat ini sedang berenang riang dalam telaga, dan dia tanya kapan kalian akan bergabung dengannya!”

Ini terdengar bagus bagi para ikan. Mereka tak sabar untuk pergi, dan méreka mulai saling mendorong untuk sampai ke ujung barisan.

Si burung menyudahi ikan-ikan seperti itu. Ia kembali ke telaga untuk melihat apakah ia bisa menemukan ikan lain, namun hanya ada satu ketam. Burung itu mulai melontarkan bualannya mengenai telaga itu.

Ketam itu agak skeptis. Ia bertanya kepada burung bagaimana ia bisa sampai ke sana. Burung memberitahunya bahwa ia akan membawanya di dalam paruhnya. Namun ketam ini memiliki kebijaksanaan. Ia berkata kepada burung, ”Mari kita lakukan seperti ini: aku akan duduk di punggungmu, lenganku berpegangan di lehermu. Jika kamu mencoba macam-macam, aku akan cekik kamu dengan capitku.”

Burung itu frustrasi karena ucapan ini, namun ia mencobanya, berpikir bahwa mungkin entah bagaimana ia masih bisa memangsa ketam itu. Jadi ketam itu naik ke punggungnya, dan mereka pun lepas landas.

Burung itu terbang berkeliling mencari tempat yang baik untuk mendarat. Namun begitu dia mencoba menukik, ketam itu mulai menjepit kerongkongannya dengan capit. Burung itu bahkan tidak bisa menjerit-ia hanya bisa bergarau. Jadi akhirnya burung itu mau tak mau menyerah dan memulangkan ketam itu ke telaga.

Jika Anda seperti ikan-ikan itu, Anda akan mendengarkan suara-suara yang memberitahu Anda betapa asyiknya segala sesuatu seandainya Anda kembali ke jalan duniawi. Itu adalah rintangan yang kita temui di jalan. Jadi saya harap Anda bisa bijak, seperti ketam itu.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com