MEMAHAMI KEDAMAIAN DAN KECUKUPAN. Ven ; Ajahn Brahm

👁 1 View
2019-09-04 16:11:47

Kita memiliki dunia panca indra, ketika kita menganalisanya dengan cara yang di ajarkan Sang Buddha kepada kita, kita menggunakan kebijaksanaan untuk bertanya; "Baiklah, jadi apa sih dunia ini, dunia ini terbentuk bagi kita melalui indra penglihatan, suara, rasa, dan sentuhan secara alamiah adalah bagian dari dualitas yaitu kebahagiaan dan penderitaan. Bahkan makanan yang kita makan disini, yang sangat lezat, sebentar saja menjadi tidak begitu enak. Jika kita memiliki makanan busuk disini, seperti yang saya dapatkan pada tahun-tahun pertama saya sebagai Bhikkhu, setalah beberapa lama kita berbalik akan menyukai makanan itu. Itu sebuah yang kontras, itu saja. Kebahagiaan dan penderitaan indra-indra adalah sekedar kontras.

Saya mengenal orang-orang yang pergi kerestoran-restoran kelas tinggi, dan karena makanannya tidak sama baiknya dengan masakan minggu sebelumnya, mereka jengkel dan mengeluh. Padahal orang-orang lain akan begitu senangnya mendapatkan apa pun untuk dimakan dikarenakan mereka sudah berhari-hari tidak makan. Dengan makanan yang sama, mengapa ada sebagian orang yang menemukan kenikmatan dan yang lainnya menemukannya sebagai penderitaan? Hanya kontras, itu saja!

Apapun yang Anda anggap sebagai kebahagiaan di dunia, semuanya bersifat sama. Misalnya saja kesenangan seksual, kebanyakan dari pengalaman itu adalah kegemitaan hasrat sebelumnya, ketika kesenangan itu tercapai, hal itu menjadi kelelahan seketika. Nafsu seksual pada dasarnya adalah seperti rasa lapar, kehausan, sebuah keadaan terpisah dari apa yang Anda inginkan, dan Anda menganggapnya sebagai kebahagiaan ! Apa yang Buddha sebut sebagai penderitaan, Anda anggap sebagai kebahagiaan !

Yang Anda anggap sebagai kebahagiaan itu adalah nafsu. Tetapi sesungguhnya, nafsu, rasa haus, tekanan untuk mencoba meraih sesuatu yang berada di luar genggaman kedalam genggaman Anda, itu adalah penderitaan. Menginginkan sesuatu adalah penderitaan. Usaha untuk mencapai apa yang Anda inginkan, manipulasi, pemikiran, perencanaan, itu semua adalah penderitaan. Berapa banyak waktu yang telah Anda sia-sia kan dalam sebuah retret untuk merencanakan, menyiasati, dan berpikir tentang bagaimana caranya Anda bisa mencapai dan mendapatkan apa yang Anda inginkan? Berapa banyak kebebasan yang Anda dapatkan jika Anda tidak memiliki "keinginan-keinginan" sama sekali dan Anda tidak perlu untuk merencanakan akan ini dan itu? Ketika semua manipulasi atau nafsu telah dicampakan, dapatkah Anda memahami kedamaian dan rasa berkecukupan yang akan muncul setelahnya?

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com