Tidak Berduka, Mana Mungkin? Oleh Ajahn Brahm (Kutipan Buku Sicacing & Kotoran Kesayangan 2)

👁 1 View
2019-08-31 11:34:31

ada masa sembilan tahun saya menjadi biksu di Thailand,ada banyak tempat di negeri itu yang belum pernah dikunjungi orang Barat.Negara-negara di sekeliling Thailand pernah dijajah bangsa asing, namun Thailand sendiri yang lolos. Ketika orang Barat berdatangan ke Thailand, mereka semua tinggal di Bangkok dan Chiangmai.

Namun di bagian-bagian wilayah Thailand tempat saya tinggal, belum pernah ada orang Barat pergi ke sana. lni bukan melebih-lebihkan. Di beberapa desa di daerah itu, saya adalah orang Barat pertama yang pernah mereka lihat. Saya ingat Suatu ketika saya pergi menerima derma makanan pada pagi hari, saya adalah orang kulit putih pertama yang mereka lihat di desa ini. Mereka seharusnya menaruh makanan pemberian mereka ke dalam mangkuk saya, namun mereka terus menatap ke arah saya hingga makanannya tumpah dan anjing-anjinglah yang menyantapnya. terima kasih banyak.

Namun, oleh karena itu, saya bisa menyaksikan sebuah budaya asli yang belum ternodai pengaruh Barat. Sangat mengasyikkan bisa mengamati budaya itu dari dalam. lni karena saya adalah biksu, dan sebagai biksu saya bukan sekadar pengunjung atau Wisatawan. Biksu memiliki tempat dalam struktur sosial di sana, biksu bukan orang asing, sehingga saya diperlakukan seperti orang Thai. Saya diharapkan berperilaku seperti orang Thai, dan dengan segera saya pun menjadi seperti orang Thai, melihat dengan mata orang Thai.

Salah satu hal yang saya saksikan sungguh tak pernah saya sangka. Wihara tempat saya tinggal Juga berfungsi sebagai tempat kremasi. Seluruh desa di sekitar itu menggunakan wihara kami sebagai tempat upacara kremasi. Jadi, kami melakukan semua upacara kremasi. Kami melihat mereka datang membawa orang mati, kami memimpin upacara, kami melihat mereka dari sore hingga esok harinya.

Dan ada sesuatu yang sangat aneh. Tidak ada duka. Mereka tidak menangis. Jangankan menangis, mereka bahkan tidak bersedih ketika ada yang meninggal. Mereka juga bukan menekan perasaan duka mereka, sebab kami melihat mereka sehari-hari. Rasa duka itu hanya sekadar tidak ada di sana.

Saya pikir itu mustahil. Sebab seluruh pembelajaran saya mengatakan bahwa ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai, kita seharusnya berduka. Kenyataannya, tidak ada duka di sana. Kadang orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itu mustahil. Tapi bisakah Anda lihat? Di sana ya begitu! Namun orang-orang ini tidak bisa melihatnya karena pengetahuan mereka, asumsi mereka. Jangan pernah biarkan pengetahuan, pembelajaranmu, menghalangi kebenaran.

Jadi, kadang kita pun harus melepaskan pembelajaran dan asumsi kita demi bisa melihat kebenaran. ltulah yang saya sebut sebagai memiliki batin ala Teflon. Jika tidak, kita memiliki semua asumsi mengenai siapa itu istri, suami, siapa musuh kita sebenarnya. apakah kebenaran itu. Semua itu akan menghalangi kita dari melihat apa yang sesungguhnya ada di sana. Dan sejauh yang pernah saya lihat, hidup ini benar-benar mengejutkan.
https://www.instagram.com/p/B10HlCLA9C1/?igshid=1pl1rzj3deab

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com