Kisah Yang Berhubungan Dengan Anicca

lay
Setelah menerima pelajaran meditasi dari Sang Buddha, lima ratus bhikkhu pergi ke sebuah hutan untuk berlatih meditasi. Tetapi mereka mengalami sedikit kemajuan, sehingga mereka kembali kepada Sang Buddha dan menanyakan pelajaran meditasi lainnya yang akan membuat mereka mencapai hasil yang lebih baik. Dalam benak hati-Nya, Sang Buddha mengetahui bahwa pada masa Buddha Kassapa, bhikkhu-bhikkhu itu bermeditasi dengan objek ketidakkekalan.

Kemudian Beliau berkata, “Para bhikkhu, semua keadaan yang berkondisi adalah subjek dari perubahan dan akan musnah, oleh karena itu tidaklah kekal.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 277 berikut :

Segala sesuatu yang berkondisi
tidak kekal adanya.
Apabila dengan kebijaksanaan
orang dapat melihat hal ini;
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan
yang membawa pada kesucian.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

----------

Notes :

Anicca, Dukkha, dan Anatta, dikenal sebagai hukum Tilakkhana (Tiga corak/karakteristik).

Anicca artinya tidak kekal, selalu berubah.

‘Sabbe sankhara anicca’ berarti; segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur akan selalu mengalami perubahan dan tidak kekal. Misalnya, awan, tumbuhan, benda-benda mati, makhluk hidup, dll.
Terutama yang dibahas disini adalah Panca Khanda/Lima Khanda (disebut juga lima agregat atau lima kelompok kehidupan) yaitu : Rupa (badan jasmani), viññana (kesadaran), sañña (pencerapan), sankhara (pikiran/bentuk-bentuk pikiran), dan vedana (perasaan). Tubuh disini termasuk juga tubuh para dewa/brahma/penghuni surga. (Lihat juga notes kisah 150).

Semua ini bersifat selalu berubah, tidak kekal. Semua fenomena/kejadian/keadaaan/kondisi yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu: timbul, berlangsung, dan kemudian berakhir/lenyap/berubah ke bentuk lain.

Dengan mengamati bahwa hal disekeliling kita dan juga panca khanda kita adalah anicca, dan kemudian sering merenungkannya hal ini akan membawa kebijaksanaan. Kita tidak akan terombang-ambing oleh perasaan negatif dan kemelekatan yang tidak perlu.

Misalnya, jika kita tahu dan benar-benar menyelami bahwa ada gravitasi; semua benda dilempar akan jatuh. Maka ketika benda2 itu jatuh, kita tidak menyesali dan mengutuk kejadian itu dan berharap pot kesayangan kita tetap ngambang saja diudara. Karena kita tahu mengharapkan demikian adalah hal yang mustahil.
Demikian pula, jika ada kejadian menyedihkan seperti kematian sanak saudara, kita diingatkan kembali, bahwa ‘sabbe sankhara anicca’, segala sesuatu yg berkondisi adalah tidak kekal adanya. Bahwa memang rupa khanda/jasmani kita tidak kekal, selalu berubah, dari kecil sampai tua, sakit, hingga akhirnya mati. Jika kita sungguh-sungguh mengerti, bukan hanya sekadar tahu, kita dapat melihat peristiwa itu seperti melihat benda jatuh.

Demikian pula nama khanda/batin kita yaitu; kesadaran, pencerapan, perasaan, pikiran dan bentuk-bentuk pikiran kita. Selalu berubah dan tidak kekal; timbul, berlangsung, dan kemudian berakhir/lenyap/berubah ke bentuk lain.

Ketika ada yang menggembirakan ataupun menyedihkan, jika kita mengerti sifat dasar dari 4 hal tadi : tidak kekal dan selalu berubah, maka perasaan kita tidak perlu seperti roller coaster. Ketika ada hal yang amat sangat menyedihkan atau menyebalkan, kita tidak terbawa emosi berlarut-larut. Tidak perlu marah-marah atau histeris seperti pemain sinetron. Atau sampai kalap memukul orang. Capek sendiri nanti. Padahal sebentar lagi perasaan itu akan lewat. Tentunya asalkan jangan disirami bensin lagi dengan mengingat-ingat dan dirasa-rasakan lagi.

Seperti halnya perasaan sedih, marah dll akan timbul dan tenggelam, demikian pula perasaan gembira. Setelah gembira lalu jadi muram, karena ternyata kegembiraan itu cuma bertahan sebentar, dan biasanya kita mengharapkan kegembiraan itu terus menerus bertahan.. terus menerus high. Ketika kegembiraan itu hilang, kita merasa muram dan hampa. Padahal memang tidak bisa high terus. Perasaan selalu berubah, naik turun, timbul dan tenggelam. Orang yang tidak mengerti sifat alami dari Panca Khanda, banyak yg akhirnya lari ke alkohol dan narkotik, karena mengharapkan high terus.

Lalu, apakah dengan merenungkan Anicca dan mempraktekkan hal diatas kita menjadi orang yang pesimis atau membosankan? Tentu saja tidak. Coba lihat His Holiness Dalai Lama, beliau selalu penuh senyum dan tawa, penuh kasih dan kebahagiaan.

Misalnya orang awam tingkat kebahagiannya dari skala 1 s/d 10, dimana 1 = amat sangat sedih, 6 = netral, 10 = amat sangat bahagia.

Kalau dilihat secara grafik, mungkin orang awam grafiknya bisa naik turun dari 1 -10, mudah terbawa emosi, hari ini sedih sekali (seharian) lalu besoknya gembira sekali (walau hanya lima menit), lusanya sedih lagi, kesal lagi... lalu happy lagi. Kena senggol sedikit; marah, kesal. Disenyumi cewek/cowok cakep rasanya seperti terbang di langit. Naik turun seperti roller coaster.

Tetapi orang yang berlatih dan memahami sifat anicca, grafiknya mungkin hanya berkisar 5 (kalau ada problem) sampai 8 (ketika ada kabar gembira).. atau mungkin malah konstan 8 terus atau 9 terus, terlepas dari apapun situasi yang dihadapi, batinnya tidak terpengaruh. Bukankah lebih baik begitu ?

Roller coaster ini bisa dialami beberapa kali dalam sehari atau bahkan dalam satu jam. Bisa saja pagi hari merasa senang, waktu siang depresi, sore senang lagi. Pada tahap latihan, tentunya kita masih merasa up and down, wajar. Prinsipnya adalah berapa cepat kita bisa mencapai kembali keseimbangan batin. Misal, pada tahap awal kalo merasa down bisa 1 hari atau lebih. Lama-lama ‘down time’ berkurang menjadi beberapa jam saja. Bagus.

Tahap berikut adalah melatih awareness/kesadaran sampai kita bisa menyadari sebelum perasaan itu timbul. ‘Ah, perasaan sedih (marah, kesal, dll) akan timbul. Kenapa perasaan ini timbul? Akhirnya tidak jadi sedih, marah atau kesal. Tapi ini butuh waktu dan proses cukup lama, tergantung seberapa rajin kita ingat dan merenungkannya. Jangan putus asa kalau 2-3 bulan mendatang masih tetap belum bisa :)

Jika kita sebagai seorang Buddhist, kita jadi pesimis, tidak bahagia; berarti ada pemahaman kita yang keliru.


Kritik dan saran,hubungi : [email protected]